KabarMakassar.com — Penanganan Tuberkulosis (TB) di Sulawesi Selatan (Sulsel) masih menghadapi tantangan serius.
Data terbaru menunjukkan cakupan penemuan kasus TB di Sulsel baru mencapai 29 persen dari total estimasi kasus.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulsel per 1 Juli 2025, dari perkiraan 45.472 kasus TBC di seluruh wilayah Sulsel, baru 12.983 kasus yang berhasil ditemukan. Artinya, dua dari tiga kasus TB di Sulsel masih belum terdeteksi.
Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dr. Ishaq Iskandar, menegaskan bahwa penanganan TB merupakan bagian dari program prioritas nasional. Penemuan kasus secara aktif menjadi strategi utama dalam memutus rantai penularan penyakit ini.
“Jadi memang penanganan TB ini menjadi salah satu program asta cita Bapak Presiden. Maksudnya dari program ini memang mengharapkan penanganan TB di Indonesia bisa dituntaskan dengan baik. Termasuk di Sulawesi Selatan, juga menjadi program Bapak Gubernur dan Ibu Wakil Gubernur terkait dengan TB ini,” kata Ishaq, Senin (21/07).
Ishaq menyebutkan bahwa kunci dari penanganan TB adalah menemukan penderita lebih awal dan memberikan pengobatan sampai tuntas. Semua fasilitas kesehatan tingkat pertama sudah menyediakan layanan pengobatan TB secara gratis.
“Intinya bagaimana ditemukan semua yang penderita, diobati sampai sembuh. Obatnya sekarang kan di puskesmas banyak dan disiapkan secara gratis. Masyarakat kita harapkan datang ke puskesmas untuk periksa bila ada batuk yang tidak biasa,” jelas Ishaq.
Dalam data Dinkes tersebut, Kota Makassar menjadi wilayah dengan jumlah kasus TB tertinggi yang berhasil ditemukan, yakni 4.228 kasus dari estimasi 7.970 kasus. Cakupan deteksi sudah mencapai 53 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi.
Namun, masih banyak daerah lain di Sulsel yang cakupan temuannya sangat rendah. Enrekang misalnya, hanya berhasil menemukan 104 kasus dari estimasi 1.087, atau sekitar 10 persen saja. Tana Toraja dan Toraja Utara masing-masing juga hanya mencatatkan cakupan 12 dan 15 persen.
Menurut Ishaq, tingginya jumlah kasus di daerah seperti Makassar, Jeneponto, dan Pangkep tidak lepas dari kondisi sosial ekonomi dan kepadatan penduduk. Wilayah kumuh dan miskin cenderung menjadi episentrum penyebaran TB.
“Ada beberapa daerah memang seperti, Makassar, Pangkep, Jeneponto, dan daerah-daerah yang saya kira biasanya ini penyakit banyak terkait dengan kemiskinan dan daerah kumuh,” jelasnya.
Ishaq juga menambahkan bahwa lingkungan tempat tinggal yang tidak sehat dan padat berpenghuni berkontribusi besar terhadap penyebaran penyakit ini. Oleh karena itu, antisipasi terhadap TB juga harus mencakup aspek lingkungan.
“Daerah-daerah yang tingkat kesehatan kebersihan lingkungan atau kesehatan lingkungannya yang bermasalah, saya kira itu salah satunya, yang padat, kemudian makanya kita antisipasi juga di daerah-daerah kepadatan penduduk yang banyak dan daerah yang kumuh dan miskin itu,” kata Ishaq.
Ishaq menyatakan, dari segi target nasional, cakupan penemuan kasus TB idealnya mencapai 90 persen. Namun, kendala masih muncul di masyarakat, terutama terkait kesadaran untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan sejak dini.
“Sebenarnya kita diharapannya minimal 90 persen ya, tapi kan kita tahu lah masyarakat kadang-kadang anggap biasa penyakitnya, sehingga malas biasa ke puskesmas. Padahal puskesmas ini pusat kesehatan masyarakat, datanglah ke sana. Atau ada klinik terdekat, boleh (ke sana),” pungkasnya.














