KabarMakassar.com — Di tengah dinamika politik daerah, satu nama hadir membawa warna berbeda di kursi legislatif Sulawesi Selatan (Sulsel).
Haris Abdurrahman resmi dilantik sebagai anggota DPRD Sulawesi Selatan melalui mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW) untuk sisa masa jabatan 2024–2029, Selasa (21/04).
Namun bagi sebagian masyarakat, Haris bukanlah wajah baru. Ia telah lama dikenal sebagai figur yang mengabdikan hidupnya di jalur pendidikan dan dakwah, jauh sebelum melangkah ke dunia politik formal.
Lahir di Makassar pada 27 Maret 1965, Haris tumbuh dalam lingkungan yang sarat nilai keagamaan dan pendidikan. Ia mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah Makassar, yang turut membentuk karakter intelektual dan sosialnya.
Sejak muda, ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), mengawali kiprah organisasi dari level akar rumput. Dari sana, ia belajar membangun gerakan, mengorganisasi pemuda, hingga memahami kebutuhan masyarakat secara langsung.
Langkahnya kemudian menguat di dunia dakwah. Haris pernah memimpin Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Pendidikan Al-Qur’an, sebelum dipercaya menjadi Ketua Umum BKPRMI Sulawesi Selatan. Di bawah kepemimpinannya, pembinaan generasi Qur’ani menjadi salah satu fokus utama.
Perannya juga meluas di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Sulawesi Selatan sebagai wakil ketua, memperkuat jaringan dakwah hingga ke berbagai wilayah. Konsistensinya dalam membangun pendidikan berbasis nilai terlihat dari keterlibatannya di Yayasan Markaz Al-Qur’an dan Yayasan Wahdah Islamiyah.
Bagi Haris, dakwah tidak hanya soal ceramah, tetapi juga membangun sistem pendidikan dan pemberdayaan umat yang berkelanjutan. Prinsip itulah yang kini dibawanya ke ruang parlemen.
“Pengabdian itu tidak berubah, hanya ruangnya yang berbeda,” menjadi pandangan yang menggambarkan pergeseran perannya hari ini.
Di balik aktivitasnya, Haris dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan dekat dengan keluarga. Bersama istrinya, ia membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis dan membesarkan enam orang anak.
Kini, sebagai legislator, ia menghadapi tantangan baru menerjemahkan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan di ruang dakwah ke dalam kebijakan publik.
Harapannya, pengalaman panjang di tengah masyarakat dapat menjadi bekal dalam memperjuangkan isu pendidikan, keumatan, dan kesejahteraan sosial.
Pelantikannya tidak hanya menandai pergantian posisi di DPRD Sulsel, tetapi juga membuka babak baru perjalanan seorang pendidik dan dai yang kini masuk ke arena pengambilan keputusan.
Bagi Haris Abdurrahman, parlemen bukan sekadar tempat bekerja, melainkan ruang pengabdian lanjutan tempat di mana nilai, gagasan, dan kepedulian diuji untuk memberi dampak lebih luas bagi masyarakat Sulawesi Selatan.














