KabarMakassar.com — Inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Sulawesi Selatan pada April 2026 tercatat sebesar 2,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,56. Kenaikan ini menunjukkan tekanan harga masih terjadi di tengah dinamika ekonomi daerah.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, inflasi tersebut dipicu oleh kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Hampir seluruh sektor mengalami peningkatan, meski dengan besaran yang bervariasi.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi dengan kenaikan 4,41 persen. Kenaikan ini mencerminkan masih kuatnya pengaruh sektor pangan terhadap stabilitas harga di daerah.
Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat lonjakan signifikan hingga 11,72 persen. Sementara kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran juga naik sebesar 2,34 persen.
Kelompok lain seperti perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mengalami kenaikan 0,58 persen. Diikuti kelompok transportasi sebesar 0,43 persen serta kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,82 persen.
Dari sisi komoditas, emas perhiasan menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,88 persen. Kenaikan harga emas turut memberi tekanan signifikan terhadap inflasi secara keseluruhan.
Komoditas pangan seperti daging ayam ras, beras, dan tomat juga memberikan kontribusi cukup besar masing-masing sebesar 0,19 persen dan 0,17 persen. Selain itu, telur ayam ras, minyak goreng, serta ikan bandeng turut mendorong inflasi.
Meski secara tahunan terjadi inflasi, Sulawesi Selatan justru mengalami deflasi secara bulanan (month to month/mtm) sebesar 0,03 persen. Penurunan ini menunjukkan adanya koreksi harga dalam jangka pendek.
“Deflasi tersebut dipicu oleh turunnya harga beberapa komoditas seperti emas perhiasan, ikan layang, ikan cakalang, serta telur ayam ras. Komoditas hortikultura seperti pepaya dan cabai rawit juga berkontribusi terhadap penurunan harga,” ungkap Kepala BPS Sulsel, aryanto, Selasa (05/05).
Secara wilayah, inflasi terjadi di seluruh daerah pemantauan. Kabupaten Sidenreng Rappang mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,94 persen, sementara Kota Parepare menjadi yang terendah dengan 2,18 persen.














