KabarMakassar.com — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Makassar menyiapkan lebih dari 1.000 unit tandon air sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan yang dipicu fenomena El Nino.
Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Fadli Tahar, mengatakan kesiapan tersebut menjadi bagian dari strategi mitigasi untuk memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat di wilayah rawan terdampak.
“Total lebih dari 1.000 tandon air sudah kami siapkan dan akan didistribusikan secara bertahap sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya, Selasa (28/04).
Ia menjelaskan, ancaman kekeringan tidak hanya berdampak pada krisis air bersih, tetapi juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran serta gangguan kesehatan masyarakat.
“Krisis air menjadi dampak utama. Selain itu, suhu tinggi bisa mempercepat potensi kebakaran dan memicu penyakit seperti ISPA dan gangguan pernapasan,” jelasnya.
Sebagai langkah awal, BPBD telah mulai menyalurkan sekitar 100 unit tandon ke wilayah yang telah mengalami dampak kekeringan berdasarkan skala prioritas.
Distribusi tersebut merupakan bagian dari rencana kontinjensi yang telah disusun bersama lintas sektor guna menghadapi berbagai kemungkinan skenario bencana selama musim kemarau.
“Penanganan ini dilakukan secara kolaboratif, melibatkan PDAM, Dinas Kesehatan, Damkar, hingga dukungan dari pihak swasta dan lembaga filantropi,” katanya.
Selain memperkuat mitigasi kekeringan, BPBD Makassar juga mendorong kesiapsiagaan masyarakat melalui peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026.
Kegiatan tersebut akan dipusatkan di Kantor BPBD Makassar dan dihadiri Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, dengan agenda apel kesiapsiagaan, gelar pasukan, hingga simulasi penanganan bencana.
“Apel ini melibatkan seluruh unsur, mulai dari pemerintah, relawan hingga masyarakat sebagai bentuk penguatan kesiapsiagaan bersama,” ujar Fadli.
BPBD juga akan meluncurkan program edukasi kebencanaan bagi anak bertajuk SALAMA sebagai bagian dari pendekatan preventif jangka panjang.
“Sejak dini anak-anak harus dibekali pemahaman menghadapi bencana agar tidak panik dan bisa menyelamatkan diri,” katanya.
Fadli menegaskan, peran masyarakat sangat krusial dalam penanggulangan bencana, mengingat sebagian besar penyelamatan terjadi di tingkat individu dan lingkungan terdekat.
“Sekitar 95 persen penyelamatan dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Karena itu mereka harus menjadi subjek utama dalam kesiapsiagaan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya penetapan status tanggap darurat jika kondisi memburuk, guna membuka akses pembiayaan seperti Belanja Tidak Terduga (BTT) dan bantuan pemerintah pusat.
“Dengan status tanggap darurat, penanganan bisa lebih cepat dan dukungan sumber daya dapat dimaksimalkan,” tukasnya.














