KabarMakassar.com — DPRD Kota Makassar menyatakan dukungan penuh terhadap program Urban Farming yang baru saja diluncurkan Pemerintah Kota Makassar sebagai bagian dari strategi penguatan ketahanan pangan dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Sekretaris Komisi B DPRD Makassar, Andi Tenri Uji, mengatakan urban farming merupakan solusi adaptif atas keterbatasan lahan pertanian di wilayah perkotaan. Ia menilai program ini bukan hanya inovatif, tetapi juga strategis dalam mendorong masa depan kota yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.
“Sumber pangan tidak lagi harus bergantung pada lahan luas. Kini warga kota dapat memanfaatkan pekarangan, balkon, atau atap rumah untuk menanam melalui sistem vertikultur, hidroponik, hingga akuaponik,” ujar Tenri Uji, Kamis (7/8).
Lebih jauh, politisi PDIP tersebut menegaskan bahwa urban farming sejalan dengan nilai ideologis partainya dalam upaya merawat bumi dan menjamin masa depan generasi. Menurutnya, praktik pertanian perkotaan juga bisa menjadi gaya hidup baru yang sehat karena sebagian besar menggunakan metode organik, tanpa pupuk kimia maupun pestisida sintetis.
Ia menekankan pentingnya menjadikan urban farming sebagai gerakan kolektif yang menguatkan ekonomi lokal dan memperkuat relasi sosial antarwarga.
“Ini bukan cuma soal tanaman. Ini tentang membangun kemandirian, menciptakan aktivitas produktif, dan membentuk budaya gotong royong di tengah kehidupan kota,” katanya.
Dewan meminta agar pelaksanaan program tidak berhenti pada seremoni launching, melainkan dikawal hingga tingkat implementasi, termasuk dalam hal pemberian edukasi, bibit, teknologi pertanian, dan fasilitas pendukung lainnya.
“Kalau dikembangkan konsisten, urban farming bisa menjadikan Makassar sebagai kota hijau yang berpihak pada keberlangsungan hidup generasi mendatang,” tambahnya.
Sebelumnya, Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi resmi meluncurkan program Urban Farming Makassar sebagai bagian dari transformasi sistemik pengelolaan lingkungan kota. Dalam sambutannya, Munafri menegaskan bahwa urban farming bukan program berdiri sendiri, melainkan bagian dari satu ekosistem kota yang berkelanjutan.
“Urban farming bukan hanya tentang menanam. Ini adalah upaya membentuk budaya baru budaya yang mandiri, peduli, dan berkelanjutan,” tegas Appi.
Program ini merupakan lanjutan dari pengelolaan lingkungan yang telah dimulai di tingkat RT melalui biopori, eco-enzyme, komposter, hingga budidaya maggot untuk pengolahan sampah organik. Semua elemen diarahkan agar saling menopang dan menciptakan siklus produksi hijau yang efisien dan ramah lingkungan.
“Sampah organik tidak boleh dibuang sia-sia. Ia harus diolah dan kembali memberi manfaat bagi kehidupan warga. Inilah sistem kota yang ingin kita bangun berbasis ekologi, produktif secara ekonomi,” jelas Appi.
Urban farming diharapkan menjadi kekuatan baru dalam mendekatkan masyarakat dengan sumber pangan, serta membangun kesadaran bahwa menjaga lingkungan dimulai dari rumah sendiri. Program ini juga menjadi medium edukatif bagi anak-anak dan generasi muda untuk hidup selaras dengan alam.
Pemerintah Kota Makassar menargetkan program ini menyasar sebanyak mungkin warga di semua kelurahan dan kecamatan melalui kolaborasi lintas OPD, komunitas lingkungan, serta dukungan legislatif sebagai mitra kebijakan.














