KabarMakassar.com — Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat mendorong pembangunan tiga gudang baru di wilayah Sulawesi Selatan dan Barat yang bersumber dari lahan hibah pemerintah daerah. Ketiga lokasi tersebut berada di Kabupaten Mamasa Provinsi Sulawesi Barat, serta Kabupaten Kepulauan Selayar dan Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan.
Rencana pembangunan ini merupakan bagian dari program nasional penambahan 100 gudang Bulog di berbagai daerah dengan total anggaran sekitar Rp5 triliun. Khusus di Sulawesi Selatan, terdapat 11 titik yang diusulkan, dengan delapan di antaranya telah dipastikan menggunakan lahan milik Bulog.
Pemimpin Wilayah Bulog Sulselbar, Fahrurozi, mengatakan tiga lokasi tambahan saat ini masih dalam tahap pengajuan karena menggunakan skema hibah dari pemerintah daerah. Proses tersebut terus didorong agar dapat segera diakomodasi dalam program pembangunan gudang nasional.
“Tiganya itu kami sedang push dari tanah hibah dari Pemda, yaitu ada dari Kabupaten Mamasa, Kabupaten Selayar, dan Kabupaten Bone. Itu yang saat ini kami push karena memang dari tiga Pemda ini yang saat ini sudah melakukan proses hibah yang rencananya akan kita gunakan sebagai tambahan gudang,” ujar Fahrurozi, belum lama ini.
Ia menjelaskan, kebutuhan pembangunan gudang baru tidak terlepas dari meningkatnya volume stok beras yang harus ditampung. Penambahan kapasitas penyimpanan dinilai penting untuk mendukung optimalisasi penyerapan hasil panen petani ke depan.
“Tentu penambahan gudang itu di samping karena memang saat ini stok kami besar sekali dan itu masih membutuhkan ruang simpan atau space gudang yang banyak, jadi adanya penambahan itu tentu akan menambah kapasitas gudang yang ada di Sulsel untuk bisa melakukan optimalisasi penyerapan di tahun 2027,” jelasnya.
Fahrurozi mengungkapkan, pembangunan gudang di Mamasa menjadi prioritas karena faktor geografis yang menyulitkan distribusi logistik. Selama ini, pasokan beras ke wilayah tersebut masih bergantung dari daerah lain dengan biaya distribusi yang tinggi.
“Logistik dari Mamasa biasanya sampai saat ini kami distribusikan dari Polewali berasnya. Itu biaya logistik ke sananya itu cukup mahal karena memang daerahnya cukup perlu effort yang lebih untuk masuk ke daerah Mamasa karena pegunungan,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan gudang di Mamasa juga berfungsi sebagai cadangan logistik untuk mengantisipasi gangguan distribusi akibat kondisi alam. Dengan adanya stok di lokasi, kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi saat terjadi hambatan akses.
“Bahkan kami perlu ada gudang penyimpanan di sana sebagai buffer stok atau penyimpanan cadangan pemerintah di sana. Mana kalah ada kejadian-kejadian yang kita nggak inginkan, minimal Pemda tersebut ada stok yang bisa digunakan untuk membantu masyarakat sekitar,” lanjutnya.
Sementara itu, pembangunan gudang di wilayah Kepulauan Selayar direncanakan berlokasi di Pulau Jampea yang memiliki potensi produksi pertanian cukup besar. Lokasi ini dipilih karena jaraknya yang jauh dari pusat distribusi sehingga membutuhkan kehadiran fasilitas penyimpanan di wilayah tersebut.
“Di daerah Selayar itu rencana yang akan kami bangun tapi bukan di pulau Selayarnya, tapi di pulau Jampeanya. Masuk ke wilayah Kabupaten Selayar tapi pulaunya terpisah. 12 jam dari pulau Selayar perjalanan ke sana,” katanya.
Fahrurozi menambahkan, pembangunan gudang di Pulau Jampea bertujuan mendekatkan Bulog dengan sentra produksi agar penyerapan hasil panen dapat lebih optimal. Selain itu, keberadaan gudang juga diharapkan mampu menjaga stabilitas harga di wilayah kepulauan.
“Bahkan kami perlu hadir di daerah-daerah 3T tersebut untuk memastikan petani di sana juga mendapatkan harga yang terjangkau dan harga yang bagus ketika menanam komoditi padi,” jelasnya.
Untuk wilayah Kabupaten Bone, pembangunan gudang dinilai mendesak karena tingginya produksi padi yang belum diimbangi dengan kapasitas penyimpanan. Saat ini, sebagian hasil panen dari Bone masih harus dikirim ke Makassar untuk disimpan.
“Kalau di Bone memang produksinya terbesar dan memang kapasitas gudang kami saat ini terbatas sekali di sana. Sehingga beberapa hasil panen di wilayah Bone kami kirim ke Makassar. Kami simpan di Makassar. Jadi kami memang perlu penambahan gudang di kabupaten Bone agar nantinya hasil produksi Bone itu bisa disimpan di Bone,” ujarnya.
Saat ini, proses pembangunan masih dalam tahap awal dengan penyusunan studi kelayakan oleh kantor pusat serta pengujian kondisi tanah di lokasi yang diusulkan. Tahapan tersebut menjadi dasar sebelum proyek masuk ke proses perencanaan teknis dan lelang.
“Rencananya saat ini karena inpresnya baru, jadi saat ini di kantor pusat sedang menyusun feasibility study, FS-nya terkait kelayakan dan di lapangan saat ini sedang kami lakukan soil tester terkait kelayakan tanahnya,” pungkasnya.














