KabarMakassar.com — Hilirisasi pertambangan menjadi salah satu faktor yang bisa dikembangkan guna memacu perembesan daya dorong ekonomi yang lebih besar. Produk hilir yang dihasilkan dari nikel sebaiknya langsung mengarah pada produksi suku cadang kendaraan listrik guna menyempurnakan ekosistem electric vehicle (EV).
Apalagi pada pertengahan tahun lalu, Menteri Investasi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia membeberkan rencana konsorsium Inggris berinvestasi sebesar US$9 miliar atau senilai Rp134 triliun di Kabupaten Bantaeng Sulsel, untuk membangun ekosistem baterai listrik di Indonesia.
Kepala Bidang Pengembangan Perencanaan Iklim Penanaman Modal Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulsel Abdul Hadi mengungkapkan jika pembangunan pabrik baterai di wilayahnya telah dibahas sebelumnya.
“Untuk pabrik baterai itu memang belum ada kesepakatan resmi, tapi perencanaannya sudah matang,” jelasnya.
Hadi menyebut telah mengajukan Investment Project Ready to Offer (IPRO) untuk pembangunan awal pabrik baterai senilai Rp1,4 triliun. Dokumen tersebut berisi lokasi potensial, potensi sumber bahan baku, peluang pasar, kesiapan wilayah, hingga kelayakan finansial proyek.
Pembangunan pabrik baterai di wilayah Sulawesi dinilai sesuai sebab pulau ini menjadi salah satu lumbung nikel di Indonesia, yang membuat distribusi bahan baku bisa lebih dekat. Sementara Sulsel, dianggap menjadi lokasi paling pas mengingat wilayah ini memiliki infrastruktur yang lebih memadai.
Terlihat sepanjang 2023, sektor pertambangan dan industri logam telah begitu mendominasi penanaman modal di Sulsel. Bahkan perusahaan yang menyumbangkan investasi terbanyak juga bergerak di smelter dan pertambangan nikel.
Plh Kepala DPMPTSP Sulsel Idham Kadir merinci, realisasi investasi di wilayahnya pada 2023 tercatat mencapai Rp16,45 triliun. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) masih menjadi yang terbesar mencapai Rp11,46 triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp4,93 triliun.
Berdasarkan sektornya, pertambangan menjadi yang terbesar mencapai Rp2,93 triliun atau mencakup 18,01 persen dari total investasi. Kemudian disusul industri logam dasar, barang logam, bukan mesin sebesar Rp2,89 triliun atau 17,58 persen
Selanjutnya di sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi sebesar Rp2,05 triliun atau 12,52 persen, perumahan dan perkantoran sebesar Rp1,63 triliun atau 9,95 persen; serta perdagangan dan reparasi sebesar Rp1,56 triliun atau 9,48 persen.
“Sulsel memang sudah menjadi surga investasi hilirisasi, terutama pada 2023. Pencapaian realisasi di tahun tersebut berkat kerja keras DPMPTSP di kabupaten/kota yang terus mempercepat dan mempermudah proses perizinan bagi para pelaku usaha,” ucap Idham.














