KabarSelatan.id, Jakarta — Kasus tewasnya Brigadir Joshua di rumah Irjen Ferdy Sambo belum juga menemukan titik terang.
Meskipun banyak bukti mulai bermunculan, namun fakta masih terus beriringan dengan munculnya beragam spekulasi. Hal ini lantaran ada banyak kejanggalan yang tak masuk akal.
Salah satu yang sering disoroti oleh Refly Harun, seorang Ahli Hukum Tata Negara adalah masalah keterkaitan waktu dari satu kejadian kepada kejadian berikutnya.
Dalam kasus Brigadir Joshua ini, waktu tentu memegang peranan penting. Refly Harun menyebut, waktu dari menit ke menit bisa menunjukkan kebenaran suatu kasus.
Salah satu yang terasa janggal adalah kronologi menit ke menit yang terjadi menjelang Brigadir Joshua tewas di tangan Bharada E.
Bahkan jika dibandingkan dengan hasil laporan saksi, kronologi ini hampir tidak mungkin dan tidak masuk akal.
Misalnya saja keterkaitan kronologi saat Brigadir Joshua melakukan pelecehan terhadap istri Ferdy Sambo dengan waktu saat ia menerima telepon sang pacar, dan waktu saat ia tewas karena baku tembak.
Dalam waktu relatif singkat, hampir tidak mungkin semua hal itu bisa terjadi bersamaan.
Lebih jelasnya, berikut kronologi menit ke menit menjelang tewasnya Brigadir Joshua, dikutip KlikBondowoso.com dari Teras Gorontalo.
Diketahui Irjen Ferdy Sambo dan istri serta para ajudan melakukan perjalanan pulang dari Magelang ke Jakarta.
Namun, saat itu dilaporkan bahwa Irjen Ferdy Sambo kembali dengan pesawat sedangkan sang istri dan para ajudan menaiki mobil.
Pukul 15.29 WIB Irjen Ferdy Sambo tiba di rumah pribadinya, jalan Saguling Duren Tiga Jakarta Selatan.
Pukul 15.40, istri Ferdy Sambo tiba di rumah pribadi bersama Bharada E, Brigadir Joshua, ART, dan 2 orang staf.
Pukul 15.43, Putri, Brigadir Joshua, Bharada E, dan ADC melakukan tes PCR.
Pukul 16.31, pacar Brigadir Joshua menelepon, sehingga Brigadir Joshua mencari tempat yang lebih sepi karena saat itu masih banyak ajudan yang berkumpul di rumah pribadi.
Pukul 16.37, tes PCR selesai dilakukan. Rombongan Putri Candrawathi kemudian pindah ke rumah dinas yang berjarak 500 meter dari rumah pribadi.
Beberapa menit kemudian, Irjen Ferdy Sambo juga keluar dari rumah pribadi, namun ke arah berbeda.
"Ada yang mengatakan, dia ke arah berbeda itu karena ingin main bulu tangkis,” kata Refly Harun.
Pukul 17.00, Putri Candrawathi menelepon Irjen Ferdy Sambo yang saat itu sudah berada di mobil. Putri melaporkan adanya insiden baku tembak di rumah dinas. Mobil pun berhenti dan sejurus kemudian berbalik arah menuju ke rumah dinas.
Sementara itu, Putri diketahui keluar rumah dinas dan menuju kembali ke rumah pribadi dengan menangis.
Refly Harun menambahkan, jika Putri Candrawathi masuk ke kamar pukul 16.49 dan pelecehan terjadi pada pukul 17.00, maka ini waktu yang sangat singkat.
Kenyataannya, di tubuh Brigadir Joshua tidak hanya ditemukan luka tembakan namun juga banyak luka seperti bekas penganiayaan.
Maka Refly Harun menyimpulkan bahwa tidak mungkin kasus ini dikaitkan dengan penganiayaan sebelum tewas karena waktu yang sangat singkat.
Refly menekankan, meskipun CCTV telah mengungkap serangkaian kronologi kejadian, baginya kasus ini bukanlah kasus yang sulit untuk diungkap.
"Tinggal periksa Putri Candrawathi, Ferdy Sambo dan Bharada E, selesai”, ucap Refly Harun.
"Dari tiga orang tersebut, nanti akan kelihatan, akan ketahuan peristiwa yang sesungguhnya,” imbuhnya lagi.
"Sebenarnya so easy the case ya.. tetapi dibuat susah dan berbelit-belit," ujarnya sambil menutup.***













