KabarMakassar.com — Universitas Hasanuddin (Unhas) masuk dalam jajaran 1000 besar universitas dunia atau Top 1000 berdasarkan pemeringkatan global QS World University Rankings (WUR).
Sebelumnya, Unhas berada di posisi 1001-1200 pada tahun 2022-2025. Update terbaru Unhas berhasil menembus peringkat 951 dunia.
QS WUR merupakan salah satu barometer utama dalam dunia pendidikan tinggi yang digunakan oleh calon mahasiswa, mitra kerja, donor hingga lembaga akreditasi internasional
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa mengatakan Unhas naik 40 peringkat setiap tahun sehingga memprediksi tiga tahun lagi masuk dalam jajaran 1000 besar. Namun kata dia ternyata hal itu datang lebih cepat dari hasil strategi pendidikan tepat yang dilakukan.
“QS itu seperti indeks kepercayaan dalam dunia perguruan tinggi global. Kampus yang masuk Top 1000 akan lebih dilirik oleh mahasiswa asing, peneliti luar negeri, hingga dunia industri internasional. Ini bukan soal peringkat semata, tapi soal positioning di panggung dunia,” ungkapnya, Kamis (19/06)
Capaian ini menempatkan Unhas sejajar dengan universitas ternama dari Indonesia yang selama ini didominasi kampus di Pulau Jawa, seperti UI, UGM, ITB, Unair, IPB, dan Undip.
Bagi Prof. Jamaluddin, pencapaian ini bukan sekadar soal angka tapi membangun universitas berkelas dunia
“Kita ingin membangun universitas yang berkelas dunia tapi tetap membumi. Reputasi itu penting, karena membuka lebih banyak akses: akses kerja sama, akses teknologi, akses pengetahuan dan pada akhirnya, akan kembali ke masyarakat,” pungkasnya.
Direktur Reputasi Unhas, Prof. Rohani Ambo Rappe menjelaskan bahwa ada tiga indikator penting yang menjadi fokus pembenahan Unhas yakni jumlah publikasi dan sitasi ilmiah, mahasiswa internasional, serta keberadaan dosen asing. Tiga indikator inilah yang banyak memengaruhi skor QS.
“Awalnya kita lemah di publikasi. Tapi sekarang, melalui Thematic Research Group (TRG), para dosen khususnya profesor diwajibkan membangun kolaborasi riset internasional. Hasilnya mulai terlihat publikasi meningkat, kerja sama makin luas, dan reputasi kampus terangkat,” jelasnya.
Selain itu strategi internasionalisasi juga diubah. Jika dulu kampus menanggung penuh biaya hidup mahasiswa asing, kini Unhas menawarkan beasiswa tuition fee saja.
“Kita tawarkan ke duta besar negara sahabat kuliah gratis di Unhas, asal biaya hidup ditanggung. Responsnya bagus, lebih efisien, dan tetap meningkatkan eksposur internasional,” tambahnya.
Selanjutnya adalah kehadiran dosen asing. Melalui TRG, kolaborasi riset membuka jalan agar akademisi luar negeri bisa datang, mengajar, dan tinggal beberapa waktu di Makassar.
Sejauh ini, rumpun yang paling produktif adalah ilmu lingkungan, kesehatan, pertanian, kehutanan, kelautan, peternakan, hingga kedokteran, farmasi, dan kesehatan masyarakat.














