KabarMakassar.com — Perumda Air Minum (PDAM) Makassar mulai menyiapkan sejumlah langkah teknis untuk mengatasi defisit pasokan air bersih yang masih terjadi di Kecamatan Tallo dan Ujung Tanah.
Kedua wilayah tersebut saat ini menghadapi kesenjangan antara kebutuhan pelanggan dan debit air yang tersedia.
Persoalan itu mengemuka dalam rapat koordinasi yang dipimpin Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Perumda Air Minum Kota Makassar, Andi Syahrum, di Kantor Perumda Air Minum Makassar, Rabu (03/06).
Kepala Bagian Distribusi dan Kehilangan Air Perumda Air Minum Kota Makassar, Wahidin, mengungkapkan kebutuhan air di kawasan Tallo dan Ujung Tanah mencapai 120 hingga 150 liter per detik. Namun hingga saat ini pasokan yang dapat didistribusikan baru berada di kisaran 75 liter per detik.
“Distribusi ke wilayah utara kota masih jauh di bawah kebutuhan pelanggan. Karena itu diperlukan penambahan debit dan optimalisasi jaringan agar pelayanan bisa lebih maksimal,” ujar Wahidin.
Untuk menutup kekurangan tersebut, Perumda Air Minum Makassar akan melakukan rekayasa distribusi melalui pengaturan ulang jaringan pelayanan Instalasi Pengolahan Air (IPA) 4 Maccini Sombala. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas aliran sekaligus memperkuat pasokan ke wilayah yang selama ini mengalami tekanan air rendah.
Menurut Wahidin, salah satu skema yang disiapkan adalah memindahkan sebagian aliran distribusi menuju jalur CPI sehingga suplai ke kawasan utara dapat ditingkatkan.
“Target kami meningkatkan debit distribusi hingga mencapai 400 liter per detik. Saat ini masih berada di kisaran 380 liter per detik sehingga perlu dilakukan optimalisasi jaringan distribusi,” katanya.
Data perusahaan menunjukkan sekitar 11 ribu pelanggan di Tallo dan Ujung Tanah saat ini bergantung pada suplai dari jaringan distribusi Panakkukang dan Reservoir Booster Paotere.
Keterbatasan debit yang masuk ke sistem menjadi salah satu faktor utama belum optimalnya pelayanan di kawasan tersebut.
Selain membahas distribusi, Perumda Air Minum Makassar juga menyoroti kondisi sumber air baku dari Bendung Lekopancing yang menjadi salah satu penopang pasokan air baku. Sejumlah kendala masih ditemukan di lapangan, mulai dari kebocoran saluran, sedimentasi, hingga pengambilan air secara ilegal.
Wahidin menjelaskan karakteristik Bendung Lekopancing berbeda dengan Bendung Bili-Bili karena sangat bergantung pada kondisi musim dan debit aliran sungai. Di sisi lain, sumber air tersebut juga dimanfaatkan oleh sejumlah pihak sehingga membutuhkan koordinasi lintas instansi dalam pengelolaannya.
“Kami terus melakukan pembenahan di lapangan untuk meminimalkan kehilangan air dan menjaga kontinuitas pasokan menuju instalasi pengolahan,” tukasnya.















