KabarMakassar.com — Pemerintah Pusat resmi mengumumkan kenaikan harga BBM subsidi jenis Pertalite menjadi Rp10.000 per liter dan Solar menjadi Rp6.800 per liter. Serta BBM Non subsidi jenis Pertamax ikut mengalami kenaikan menjadi Rp14.850 per liter.
Menanggapi kenaikan harga BBM tersebut, persatuan Nelayan Makassar menyatakan penolakannya.
Pasalnya, nelayan merupakan salah satu kelompok yang paling merasakan dampak dari kebijakan tersebut. Dimana masyarakat pesisir menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan.
Nelayan Barrang Caddi, Saleh mengatakan, kenaikkan BBM berimbas langsung pada penambahan biaya produksi melaut.
Menurutnya, di Pulau Barrang Caddi, nelayan menggunakan BBM jenis solar dan pertalite sebagai bahan bakar untuk transportasi menangkap ikan.
Saleh mengatakan, sebelumnya, nelayan dapat memperoleh solar dengan harga Rp7.000 melonjak menjadi Rp10.000 per liter, sedangkan pertalite dari Rp10.000 naik menjadi Rp13.000 per liter.
Ditambah lagi, kenaikkan BBM ikut mempengaruhi kenaikan bahan pangan yang dipasok dari Makassar menggunakan jasa transportasi penumpang (pappalimbang) dan tarif iuran listrik yang masih bergantung pada mesin genset hasil swadaya masyarakat.
"Dimana paska kenaikan BBM, tarif listrik ikut naik dari Rp4.000 per hari menjadi Rp5.000 hingga Rp7.000 per hari. Jika ini terus berlanjut maka kehidupan nelayan kedepannya akan semakin sulit," ungkapnya, Jumat (16/09).
Menanggapi kenaikan harga BBM, Nelayan Makassar menyatakan menolak dan menuntut :
1. Batalkan Kenaikan BBM
2. Beri Subsidi BBM bagi Nelayan
3. Bangun Infrastruktur Listrik Barrang Caddi
4. Berikan Hak Asuransi Nelayan
5. Pengelolaan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil untuk kemakmuran nelayan
6. Hapus alokasi ruang tambang pasir di Wilayah Tangkap Tradisional Nelayan.














