KabarMakassar.com — Upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Indonesia memasuki babak baru melalui pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
Penelitian bertajuk TBScreen.AI: Pengembangan Kecerdasan Buatan untuk Skrining Tuberkulosis dengan X-ray Dada di Daerah Terpencil di Indonesia menghadirkan inovasi perangkat lunak computer-aided detection (CAD) yang dirancang khusus untuk konteks Indonesia yang inklusif, utamanya bagi kelompok penyandang disabilitas.
Berbeda dari teknologi serupa yang dikembangkan secara global, TBScreen.AI menekankan pada pengembangan AI yang mempertimbangkan keragaman populasi Indonesia, termasuk faktor gender, usia, ras, lokasi geografis, serta kondisi disabilitas.
Pendekatan ini menjadi nilai kebaruan utama, mengingat sistem AI berpotensi bias jika tidak dilatih dengan data yang representatif.
Peneliti utama sekaligus dosen Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM) Indonesia Antonia Morita Iswari Saktiawati menyampaikan penelitian ini bertujuan untuk memberikan kemudahan akses skrining tuberkulosis khususnya bagi penyandang disabilitas.
Selain itu, penggunaan teknologi AI juga dibuat mudah diakses melalui platform digital sehingga pengguna dapat mengunggah hasil rontgen dan langsung mengetahui probabilitas TB.
“Penelitian ini secara khusus dirancang untuk membantu kelompok-kelompok yang selama ini kurang terjangkau layanan kesehatan, seperti perempuan, penyandang disabilitas, lansia, serta masyarakat di daerah terpencil,” ucapnya, Kamis (21/05).
“Kami berharap nantinya hasil penelitian untuk pengembangan teknologi ini dapat mendeteksi TB lebih dini, memperluas akses skrining bagi masyarakat yang selama ini sulit terjangkau layanan kesehatan, serta menekan penularan dan angka kematian akibat tuberkulosis,” tambahnya.
Penelitian ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Gadjah Mada, University of Melbourne, Universitas Sebelas Maret, dan Monash University Indonesia, bersama mitra masyarakat sipil seperti Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak (SAPDA), serta Yayasan Pengembangan Kesehatan dan Masyarakat Papua (YPKMP).
Inisiatif ini didukung oleh KONEKSI sebagai bagian dari kemitraan pengetahuan Indonesia-Australia.
Sebagai bagian dari penelitian, kegiatan penjangkauan komunitas dilaksanakan pada 21 Mei 2026 di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten.
Kegiatan ini bertujuan untuk merekrut partisipan dari kelompok penyandang disabilitas, melakukan skrining TBC berbasis X-ray, serta mengumpulkan data penting terkait hambatan akses layanan kesehatan.
Sekitar 40 hingga 50 peserta dari komunitas disabilitas, termasuk individu dengan kondisi seperti skoliosis, cedera tulang belakang, dan cerebral palsy, dilibatkan dalam kegiatan ini.
Data yang dikumpulkan akan menjadi pondasi penting dalam melatih sistem AI agar lebih akurat dan inklusif.
Selain skrining, kegiatan ini juga mencakup sesi sosialisasi tentang TBC oleh Monita dan Tim peneliti dari Universitas Sebelas Maret Prof Ari Natalia Probandari, yang menekankan pada ciri-ciri, gejala penyakit TB dan stigma sosial yang menyertai penularannya, serta urgensi deteksi dini.
Prof Ari juga menekankan kegiatan sosialisasi ini turut diperuntukkan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit tuberkulosis.
“Mulai dari cara penularan, deteksi, hingga pengobatannya, sekaligus mendorong upaya menemukan kasus TB lebih dini agar stigma terhadap penderita TB dapat berkurang,” jelasnya.
Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Klaten (PPDK) Qoriek Asmarawati, mengatakan, sebagai organisasi disabilitas tingkat kabupaten, kegiatan tersebut membuka ruang bagi pihaknya untuk berkontribusi dalam penelitian yang berdampak langsung pada komunitas.
“Kami sekaligus mendorong layanan kesehatan yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas melalui layanan terintegrasi dari screening hingga X-ray serta memperkuat edukasi TB dan prinsip inklusi di tingkat daerah,” ungkapnya.
Indonesia saat ini menempati peringkat kedua dengan beban TBC tertinggi di dunia, dengan kesenjangan signifikan antara jumlah kasus yang diperkirakan dan yang berhasil didiagnosis.
World Health Organization (WHO) sendiri telah mendorong penggunaan CAD untuk membantu interpretasi X-ray dada, khususnya di daerah dengan keterbatasan tenaga radiolog.
Dengan menggabungkan teknologi mutakhir dan pendekatan berbasis inklusivitas, TBScreen.AI diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem kesehatan Indonesia dan mencapai eliminasi TBC secara lebih merata.















