KabarMakassar.com — Masyarakat Sulawesi Selatan khusunya para pecinta pedas mungkin sudah tidak asing lagi dengan cabai katokkon.
Cabai katokkon merupakan cabai khas dari Toraja, masyarakat sekitar mengenalnya dengan sebutan lada katokkon.
Bentuknya menyerupai paprika namun dengan ukuran yang lebih kecil. Yakni per buah memiliki bobot sekitar 65–90 gram dengan ketebalan daging sekitar 6–7 mm.
Saat muda lada katokkon berwarna hijau, saat matang cabai katokokkon berwana merah cerah.
Lada katokkon merupakan salah satu cabai terpedas di Dunia. Lada katokkon memiliki tingkat kepedasan tinggi, yakni sekitar 400.000–691.000 Scoville Heat Unit (SHU). Uniknya, meski masih muda, lada katokkon hijau sudah memiliki tingkat kepedasan yang tinggi loh.
Masyarakat di Toraja dan sekitarnya seringkali mengolah lada kattokkon menjadi sambal yang dicampur dengan daun bawang, biasa juga dijadikan campuran dalam pa’piong, utan tuttu, dan tutuk lada.
Bagi sebagian orang, mengkonsumsi lada katokkon dapat meningkatkan dan menambah selera makan.
Dulu, lada katokkon hanya diolah saat ada momen perayaan tertentu, namun seiring waktu, lada katokkon saat ini sangat mudah ditemukan.
Katokkon dapat tumbuh subur di dataran tinggi 1.000-1.500 meter di atas permukaan laut dengan suhu yang dingin. Selain di Toraja, lada katokkon juga dapat ditermukan di wilayah Enrekang dan sekitarnya.
Lada katokkon biasanya dapat dipanen dalam sebulan 5-6 kali.
Para pelancong kadang menjadikan lada katokkon sebagai buah tangan saat berkunjung ke Tana Toraja atau ke Enrekang.
Harga lada katokkon cenderung lebih mahal dibanding dengan cabai biasanya.
Untuk diktehaui, lada katokkon telah resmi terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian pada tahun 2014 lalu.













