KabarMakassar.com — Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Sulawesi Selatan mulai memanaskan persiapan menuju Pemilu 2029 dengan melibatkan generasi muda sebagai garda terdepan pengawasan partisipatif.
Lewat program Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) di Kabupaten Pangkep, Gen Z dibekali kemampuan mengenali hingga mencegah berbagai potensi pelanggaran pemilu, terutama praktik politik uang, yang digelar di Pangkep, Senin (18/05).
Anggota Bawaslu Sulsel, Saiful Jihad, menegaskan pengawasan pemilu tidak bisa hanya dibebankan kepada penyelenggara. Menurutnya, keterlibatan publik, khususnya anak muda, menjadi elemen penting dalam menjaga kualitas demokrasi.
“Kesadaran politik harus dibangun sejak dini. Generasi muda jangan hanya menjadi penonton, tetapi harus hadir sebagai benteng yang mampu mengidentifikasi dan mencegah potensi pelanggaran pemilu di lingkungan masing-masing,” kata Saiful.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat pembekalan mengenai berbagai bentuk pelanggaran yang kerap muncul dalam kontestasi politik, mulai dari money politics, intimidasi terhadap pemilih, hingga berbagai bentuk tekanan yang dapat mencederai prinsip pemilu yang jujur dan adil.
Saiful menilai Gen Z memiliki posisi strategis karena akan menjadi kelompok pemilih dominan pada momentum demokrasi mendatang. Karena itu, pendidikan politik dinilai penting agar mereka tidak mudah terpengaruh praktik-praktik transaksional.
“Pemilu yang berkualitas lahir dari pilihan masyarakat yang bebas, bukan karena tekanan ataupun iming-iming materi. Menolak politik uang adalah langkah awal menjaga integritas demokrasi,” ujarnya.
Bawaslu Sulsel berharap program ini tidak berhenti sebatas forum edukasi, melainkan melahirkan agen-agen pengawas partisipatif di tengah masyarakat.
Para peserta didorong untuk membawa semangat pengawasan tersebut kembali ke komunitas masing-masing sebagai upaya memperkuat pengawasan publik menuju Pemilu 2029.














