KabarMakassar.com — Jumlah anak tidak sekolah (ATS) di Sulawesi Selatan masih tergolong tinggi dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi kualitas sumber daya manusia jika tidak segera ditangani secara sistematis.
Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel, Mustaqim, mengatakan angka tersebut merupakan hasil pendataan lintas jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMA. Data awal menunjukkan jumlah ATS mencapai lebih dari 170 ribu anak di Sulsel.
“Ini yang terverifikasi jumlah totalnya itu 170.433 untuk Sulawesi Selatan. Itu semua tingkatan umur dari wajib (sekolah) 12 tahun, jadi SD, SMP, dan SMA,” ujarnya, Senin (04/05).
Ia menjelaskan, pemerintah telah melakukan verifikasi data secara menyeluruh bekerja sama dengan UNICEF melalui program pendampingan di tingkat desa. Proses ini bertujuan memastikan validitas data sekaligus mengidentifikasi kondisi riil anak-anak yang tidak bersekolah.
“Setelah dilakukan verifikasi bekerja sama dengan UNICEF melalui programnya yang ada operatornya di setiap desa, didapatlah 48 ribu lebih yang terverifikasi. Ini berdasarkan data pusdatin Kementerian Pendidikan,” jelasnya.
Mustaqim mengungkapkan berbagai faktor menjadi penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan. Kondisi ekonomi keluarga menjadi salah satu alasan dominan, di mana anak terpaksa bekerja untuk membantu orang tua.
“Yang diverifikasi itu banyak alasan-alasannya. Di antaranya mungkin ada yang tidak mau lagi melanjutkan sekolah karena dia bekerja mencari uang, membantu perekoniman orang tuanya. Kemudian ada juga yang alasannya karena sekolah jauh dari rumah. Ada juga pengaruh lingkungan atau teman,” ungkapnya.
Selain itu, persoalan administrasi juga turut memengaruhi tingginya angka ATS. Kata Mustaqim, perpindahan domisili tanpa pembaruan data pendidikan menyebabkan sejumlah anak masih tercatat sebagai tidak sekolah meski telah berpindah tempat tinggal.
“Sampai pada pindah domisili mengikuti orang tua, sementara data dapodiknya belum dicabut di tempatnya bersekolah pertama itu sehingga terdata lah dia sebagai ATS,” paparnya.
Meski demikian, upaya penanganan mulai menunjukkan hasil. Dinas Pendidikan Sulsel mencatat puluhan ribu anak telah kembali mengenyam pendidikan melalui berbagai jalur, baik formal maupun nonformal.
“Kemudian data yang sudah aktif kembali, yang bersekolah, itu data terakhir kami cek itu kurang lebih 60 ribu, dari170.400 sekian-sekian. Yang terdata terakhir ini saya cek, itu kurang lebih 60 ribu yang sudah kembali bersekolah untuk semua jenjang. Bukan hanya SMA, tetapi SD, SMP, bahkan ada yang masuk di PKBM yang paket-paket itu,” pungkasnya.
Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun KabarMakassar.com dari laman Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, total ATS di Sulsel mencapai 170.466 anak yang tersebar di berbagai jenjang pendidikan.
Angka tersebut mencakup anak yang belum pernah bersekolah sebanyak 91.597 orang, lulus tidak melanjutkan (LTM) jenjang SD sebanyak 19.965 orang, LTM jenjang SMP sebanyak 25.965 orang, serta drop out sebanyak 32.939 orang.
Sebaran tertinggi tercatat di Kota Makassar dengan 34.371 anak, disusul Kabupaten Bone 17.124, Gowa 14.678, Jeneponto 12.268, Wajo 10.371, dan Bulukumba 10.326 anak.














