KabarMakassar.com — Potensi perlambatan ekspor Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi perhatian serius Bank Indonesia (BI) menyusul kebijakan tarif tinggi yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap beberapa negara, termasuk Indonesia.
Kebijakan ini dikhawatirkan mengganggu kinerja ekspor dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa AS merupakan salah satu tujuan utama ekspor Sulsel, dengan pangsa 2,7 persen dari total ekspor provinsi tersebut pada tahun 2024.
Sepanjang 2024, nilai ekspor dari Sulsel ke AS tercatat mencapai US$55,49 juta atau sekitar Rp915,85 miliar. Produk unggulan yang dikirim ke AS didominasi oleh olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska, dengan nilai mencapai Rp352,87 miliar.
Selain komoditas tersebut, ekspor Sulsel ke AS juga mencakup ikan dan hasil laut senilai Rp335,87 miliar, buah-buahan sebesar Rp90,44 miliar, lak dan getah Rp57,43 miliar, serta komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah senilai Rp54,46 miliar.
Menurut Rizki, apabila tidak ada pengalihan pasar ekspor, maka Sulsel berisiko kehilangan pendapatan ekspor sebesar Rp535,24 miliar. Hal ini diperkirakan akan berdampak pada penurunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulsel sebesar 0,14 persen.
“Tarif tinggi ini membuat harga produk ekspor dari Sulsel menjadi tidak kompetitif di pasar AS. Jika tidak diantisipasi, sebagian besar ekspor berpotensi terhenti dan memberi dampak serius terhadap ekonomi daerah,” ujarnya, Rabu (21/05).
Untuk merespons kondisi tersebut, BI mendorong diversifikasi pasar sebagai strategi jangka menengah dan panjang guna mengurangi ketergantungan ekspor pada satu negara.
“Kami mengimbau pelaku usaha dan pemerintah daerah untuk mulai membuka akses ke pasar-pasar alternatif yang lebih terbuka terhadap komoditas unggulan Sulsel,” tutur Rizki.
Diversifikasi dinilai sebagai langkah penting dalam menjaga stabilitas ekspor dan mencegah tekanan terhadap sektor industri dan ketenagakerjaan yang bergantung pada pasar luar negeri.
Dengan situasi global yang dinamis, BI menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk memastikan ekspor Sulsel tetap tumbuh di tengah tantangan perdagangan internasional.














