KabarMakassar.com — Qur’an berjalan, demikian julukan yang dialamatkan kepada Muhammad Sadli Mustafa oleh rekan kerjanya. Pria kelahiran Wotu Kabupaten Luwu Timur tahun 1978 ini adalah satu dari dua hafiz atau penghafal Al Qur’an yang mengabdi di Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, selain Ilyas Nawawi.
Sadli yang sehari-harinya bertugas pada Bidang Penerangan Agama Islam dan Pemberdayaan Zakat Wakaf (Penaiszawa) Kanwil Kemenag Sulsel ini menamatkan pendidikan dasarnya di SDN 197 Campae Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu pada tahun 1990.
Ia kemudian menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama tahun 1993 di MTs. PP Nurul Junaidiyyah Lauwo Burau Kabupaten Luwu Timur dan pada tahun 1997 tamat dari Madrasah Aliyah pondok pesantren yang sama.
Sadli lalu memilih IAIN atau yang saat ini UIN Alaudin Makassar sebagai tempat menimba ilmu untuk menyelesaikan program S1 dan S2-nya, hingga pendidikan S3 atau program Doktoralnya di PPs berjuluk Kampus Hijau tersebut pada tahun 2023.
Sadli pertama kali belajar membaca Al-Qur’an pada usai 9 tahun yang dikenalkan oleh kedua orang tuanya, dan juga dari almarhum saudara Ibunya. Ketiganya secara bergantian membimbing Sadli hingga lancar dalam waktu kurang lebih setahun lamanya.
Sejak kelas 5 SD, Sadli kecil sudah sering khatam membaca Al-Qur’an 30 juz di setiap bulan Ramadhan. Melihat kemampuannya itu, mendorong kedua orangtuanya memasukkan Sadli ke Pondok Pesantren Nurul Junaidiyah Lauwo untuk dididik agama.
Adapun riwayat Takhassus Tahfizh al-Qur’an Sadli adalah Halaqah Tahfizh al-Qur’an Ponpes Nurul Junaidiyah Lauwo (1990-1998) di bawah asuhan dan bimbingan almarhum Dr.(HC) K.H. Abdul Azis Rajmal, setoran bilghaib (hafalan) 30 Juz kepada KH. Syam Amir Yunus (2018), dan Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad (2021)
Selain berprofesi sebagai ASN, Sadli yang sebelumnya merupakan peneliti pada Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar sejak 2013 sampai 2022, juga mewakafkan dirinya di Pondok Pesantren Tahfizhul Quran Imam Ashim selaku Ketua Tim Penjamin Mutu (TPM) Tahfiz al-Qur’an al-Imam ‘Ashim duga sebagai salah satu Pembina Tahfiz PP MDIA Bontoala Makassar.
Selain itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pembinaan Tahfiz PW JQH Nahdlatul Ulama (NU) Sulsel masa khidmat 2021-2026.
Pria berperawakan mungil ini pun memiliki sederet pengalaman sebagai imam salat tarwih di beberapa masjid di Kota Makassar, diantaranya masjid Al-Markaz Al Islami dari tahun 2003 sampai sekarang, Masjid Telkom berselang seling setiap tahun sejak 2005 sampai sekarang, Masjid Raudatul muflihin sejak 2022 hingga sekarang, Masjid Lembo 2016-2019, Masjid Atirah berselang seling tiap tahun sejak 2004 sampai 2022.
Sadli juga merupakan imam salat Subuh dan simaan Al-Qur’an 30 Juz dalam bulan Ramadhan di masjid Nurul Islam Kaluku Bodoa, Tallo, Makassar sejak 2010 sampai sekarang.
Sebagai hafiz, atas prestasinya juara pertama tahfiz 30 Juz pada STQ Tingkat Nasional tahun 2005 di Gorontalo, Sadli dianugerahi hadiah menunaikan ibadah haji dari Gubernur Sulsel dan langsung berangkat waktu itu.
Sadli juga pernah mewakili Indonesia dalam event MHQ golongan Hifz Al-Qur’an 30 Juz tingkat Internasional di Makkah, Arab Saudi pada 2001 dan Kairo, Mesir tahun 2005.
Pengalaman lain yang menyertai perjalan karirnya adalah menjadi Dosen Luar Biasa mata kuliah tahfiz dan mata kuliah tajwid pada Fakultas Ushuluddin UIN Alauddin Makassar sejak 2007 sampai 2022, serta sebagai Ketua Panitia kegiatan Simaan Al-Qur’an 1000 Majelis se-Sulsel tahun 2024 yang diselenggarakan oleh JQH NU Sulsel.
Sadli juga pernah diamanahkan sebagai salah satu Dewan Hakim MTQ/STQ Provinsi Sulsel dari tahun 2008, 2014 hingga 2024. Sadli membeberkan kiat atau tips agar hafalan 30 juznya tetap terjaga hingga sekarang.
“Satu kata kunci bagi seorang hafiz agar hafalannya Insya Allah terus terjaga adalah muraja’ah, atau dalam istilah Bugis maddarasa, artinya mengulang-ulang hafalannya setiap hari. Itu dilakoni terus menerus sampai ajal menjemput. Kalau tidak, pasti ada saja yang kabur, atau bahkan hilang,” ungkapnya, Jumat (23/08).
Selain itu, lanjut Sadli mengutip pesan gurunya bahwa manusia tentu tidak terlepas dari kesalahan atau khilaf, tapi setidaknya dikurangi atau hindari maksiat dan usahakan selalu istigfar, karena maksiat itu bisa membuat hafalan kurang berkah dan secara psikologis bisa menurunkan semangat untuk muraja’ah.
“Jadi, memang setiap hari bagi hafiz/ah mesti meluangkan waktu utk muraja’ah. Termasuk yang punya kegiatan selain mengajarkan tahfiz seperti ASN misalnya,” sebutnya.
Pada kesempatan itu, Sadli menitip pesan kepada generasi muda dan ASN Kemenag khususnya, agar meluangkan waktu membaca Al Qur’an setiap hari.
“Kepada generasi muda dan rekan-rekan ASN jangan lupa sering-seringlah luangkan waktu untuk baca Al-Qur’an semampunya setiap hari, setidaknya itu bisa menenangkan hati kita,” pungkasnya.














