kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Tambang Jadi Penopang Utama Investasi Sulsel, Sumbang Rp2,1 Triliun Realisasi Investasi

Tambang Jadi Penopang Utama Investasi Sulsel, Sumbang Rp2,1 Triliun Realisasi Investasi
PT Masmindo Dwi Area, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang tambang emas di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Sektor pertambangan masih menjadi penopang utama investasi di Provinsi Sulawesi Selatan pada Triwulan I Tahun 2026. Nilai investasi sektor tersebut mencapai Rp2,172 triliun atau sekitar 40,14 persen dari total realisasi investasi Sulsel sebesar Rp5,412 triliun.

Dominasi sektor pertambangan turut mendorong pertumbuhan investasi Sulsel secara tahunan. Secara year on year, realisasi investasi Sulsel pada Triwulan I 2026 tercatat naik 37,63 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel, Asrul Sani berujar, investasi Sulsel masih didominasi aktivitas pertambangan. Selain itu, sejumlah sektor lain juga mulai menunjukkan pertumbuhan investasi.

“Dari sektornya masih didominasi oleh sektor pertambangan Sebesar Rp2,1 triliun, kemudian sektor-sektor lainnya seperti perumahan, industri, dan sektor-sektor lainnya,” kata Asrul Sani, Senin (11/05).

Selain pertambangan, sektor perumahan, kawasan industri dan perkantoran turut memberikan kontribusi terhadap investasi Sulsel. Sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi juga masuk dalam jajaran sektor dengan realisasi investasi terbesar pada awal tahun ini.

Asrul menyebut Sulawesi Selatan memiliki potensi sumber daya alam yang besar untuk terus menarik investasi. Potensi tersebut tersebar di sektor pertambangan, perikanan, perkebunan hingga industri pengolahan.

“Kita sebenarnya sudah melakukan pemetaan-pemetaan potensi-potensi yang unggulannya Sulawesi selatan. Kita punya potensi yang besar di sektor perikanan dan kelautan. Kita juga punya potensi udang di urutan keempat nasional secara produksi. Kita juga punya rajungan dan rumput laut di urutan pertama nasional. Nah ini potensi-potensi yang harus kita dorong ke para investor,” bebernya.

“Selain itu kita juga punya potensi di sektor perkebunan seperti Kakao. Itu kita urutan ketiga nasional untuk produksinya,” imbuh Asrul Sani.

Dari berbagai sektor tersebut, menurut dia, sektor tambang Sulsel memiliki posisi strategis secara nasional. Potensi tersebut dinilai harus terus dipromosikan untuk mendorong masuknya investasi baru ke daerah.

“Kita juga punya potensi di tambang kalau secara nasional, kalau tidak salah urutan ketiga atau keempat nasional,” katanya.

Ia mengatakan investasi tambang yang masuk ke Sulsel saat ini sebagian besar berasal dari pengembangan proyek yang sudah berjalan. Sejumlah perusahaan disebut sedang melakukan penambahan kapasitas dan pembangunan fasilitas produksi.

“Kalau kita lihat pergerakannya, sebenarnya investasi itu masih investasi yang existing, cuma memang mereka menambah kapasitas. Seperti yang ada di Luwu itu yang Masmindo yang akan menambah operasional, jadi ada konstruksi termasuk di Luwu Timur,” ujarnya.

Lebih jauh, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan juga tengah mendorong pengembangan kawasan industri berbasis smelter di Luwu Timur. Salah satu proyek yang dipacu adalah Indonesian Huali Industrial Park (IHIP) yang direncanakan menjadi kawasan ekonomi khusus.

Asrul mengatakan pengembangan kawasan industri menjadi langkah penting untuk memperkuat investasi sektor pertambangan dan hilirisasi industri. Keberadaan kawasan industri dinilai dapat mempermudah proses perizinan dan penyediaan infrastruktur bagi investor.

“Nah kalau sudah ada kawasan industri kan sudah clear semua. Nah itu yang menjadi PR-nya kita yang harus kita dorong,” pungkasnya.

error: Content is protected !!