KabarMakassar.com — Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar menyoroti fenomena menyempitnya ruang kebebasan berekspresi yang kian mengkhawatirkan akhir-akhir ini. Hal tersebut ditegaskan dalam aksi damai dan mimbar bebas memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia di Pelataran Stadion Prasamya Mandar Majene, Sulawesi Barat, Minggu (3/5)
Dalam orasinya, AJI Mandar secara spesifik mengecam berbagai tindakan represif terhadap pegiat demokrasi, mulai dari teror yang menimpa wartawan dan kantor Majalah Tempo hingga aksi kekerasan fisik berupa penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus.
“Kita sangat prihatin saat ini ruang ekspresi kita kian menyempit, jika kita kritis ancaman kekerasan, intimidasi dan teror membanyangi,” ujar Harmegi Amin, Koordinator Aksi sekaligus Ketua Divisi Gender, Anak, dan Kelompok Marginal AJI Kota Mandar.
Harmegi juga menyoroti banyaknya hak-hak sipil yang diambil alih oleh aparat keamanan, mulai pekerjaan konstruksi program pemerintah yang dikerjakan aparat.
Selain itu mereka juga menyuarakan soal Kekerasan terhadap jurnalis terus terjadi dalam berbagai bentuk intimidasi fisik, serangan digital, kriminalisasi, hingga tekanan ekonomi yang sistematis terhadap media.
Selain kekerasan fisik dan digital, muncul (kembali) praktik sensor dan swasensor yang semakin menguat, praktik yang dulu sering dilakukan di era Orde Baru.
Kegiatan mimbar bebas yang diikuti oleh puluhan peserta dari elemen mahasiswa, LSM, dan masyarakat sipil ini diisi dengan orasi politik, pembacaan puisi, serta pertunjukan seni dari berbagai elemen mahasiswa.
Harmegi menegaskan bahwa mimbar bebas ini merupakan ruang penting untuk menyampaikan pesan-pesan keadilan yang sering kali tersumbat.
Senada dengan Harmegi, Aco Nursyamsu dari Studi Advokasi dan Kedaulatan Agraria (SUAKA) Sulawesi Barat yang turut hadir menyuarakan keresahannya mengenai ancaman lingkungan dan kembalinya gaya kepemimpinan represif.
Aco menyoroti ekspansi pertambangan yang kini mulai menyerang wilayah Sulawesi Barat dan mengancam ekosistem lokal. Ia juga memperingatkan masyarakat mengenai munculnya fenomena “militerisme baru” yang menyerupai era Orde Baru.
“Kita sudah menumbangkan rezim militeristik Orde Baru, tapi apa yang terjadi hari ini, negara kita justru berderap maju menuju militerisme yang baru,” pungkas Aco dalam orasinya.














