KabarMakassar.com — Layanan transportasi laut antar pulau di Makassar masih menghadapi sejumlah kendala serius, mulai dari keterbatasan anggaran bahan bakar hingga minimnya infrastruktur dermaga di pulau-pulau tujuan.
Kepala Dinas Perhubungan Makassar, Muhammad Rheza, mengungkapkan pihaknya baru saja menyelesaikan survei rute pelayaran menggunakan kapal kayu Banawa 27 sebagai armada sementara.
“Dari pagi sampai malam kami survei untuk menghitung durasi dan kebutuhan BBM. Ini penting karena operasional masih sangat tergantung anggaran bahan bakar,” ujarnya, Selasa (14/04).
Dalam uji coba tersebut, kapal menempuh rute dari daratan Makassar menuju Barrang Lompo, lalu ke Bonetambung, Lumu-Lumu, Lanjukang, Langkai, dan kembali lagi dengan estimasi waktu perjalanan sekitar 399 menit, termasuk waktu singgah di tiap pulau.
Namun, keterbatasan dermaga menjadi persoalan utama. Tidak semua pulau memiliki fasilitas sandar yang memadai, bahkan beberapa titik seperti Lanjukang dan Lumu-Lumu belum memiliki dermaga sama sekali.
“Ini jadi kendala besar. Tidak semua pulau punya dermaga, jadi harus disiasati dengan perahu kecil sebagai penghubung dari kapal ke daratan,” jelas Rheza.
Dari sisi armada, saat ini Pemkot Makassar baru mengandalkan satu unit kapal Banawa 27 dengan kapasitas sekitar 35 penumpang termasuk kru. Kapal tersebut merupakan hibah dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.
Meski dinilai layak operasi, kapal ini memiliki keterbatasan kecepatan. Dalam kondisi normal hanya mampu melaju sekitar 7 knot, dan bisa turun menjadi 6 knot saat memasuki musim gelombang tinggi.
“Kalau cuaca berubah, kecepatannya pasti turun. Ini juga berpengaruh ke jadwal pelayanan,” katanya.
Keterbatasan anggaran BBM juga berdampak pada frekuensi operasional. Untuk tahap awal, layanan kapal direncanakan hanya beroperasi satu kali dalam sepekan.
“Dengan kondisi anggaran sekarang, kemungkinan baru satu kali seminggu. Kalau ada tambahan anggaran, bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Meski begitu, pemerintah kota menargetkan layanan ini dapat dinikmati masyarakat secara gratis. Jadwal operasional pun masih fleksibel dan akan disesuaikan dengan kondisi cuaca di lapangan.
“Gratis untuk masyarakat, tapi jadwalnya belum bisa dipastikan tetap karena sangat tergantung cuaca,” tukasnya.














