KabarMakassar.com — Kader Partai Golkar Sulawesi Selatan, Armin Mustamin Toputiri, mengungkap dugaan strategi politik yang membuat Partai NasDem mampu mendominasi perolehan kursi legislatif di Sulawesi Selatan pada Pemilu 2024 lalu.
Menurut Armin, keberhasilan NasDem bukan semata karena kekuatan mesin partai, tetapi juga ditopang oleh dukungan finansial yang kuat dari tokoh sentralnya, Rusdi Masse (RMS).
Ia menilai pola kerja yang terbangun di tubuh NasDem lebih terstruktur, termasuk dalam hal pendanaan antarcaleg di setiap tingkatan.
“Itu yang dilakukan NasDem. Yang membuat jadi lebih banyak kursi itu ya karena didanai Pak Rusdi. Tinggal tandem saja,” ujar Armin Mustamin, Sabtu (01/11).
Ia menambahkan, pola kerja ‘tandem caleg’ antara calon legislatif tingkat provinsi dan kabupaten/kota menjadi strategi NasDem. Melalui sistem ini, sumber daya keuangan dari pusat hingga daerah bergerak simultan untuk memperkuat basis suara partai di setiap daerah pemilihan.
“Pak Rusdi kasih keluar duit, caleg Pak Rusdi provinsinya dikasih duit, caleg kabupatennya juga dikasih duit untuk sama-sama beli suara,” lanjut Armin.
Sebelumnya, eks Wakil Ketua I Golkar Sulsel Armin Mustamin Toputiri telah melontarkan sindiran.
Dimana Armin menilai Golkar bisa saja kembali menjadi pemenang, asalkan mau menjadi partai yang ‘pragmatis’.
Menurutnya, pragmatisme yang dimaksud adalah langkah merekrut calon legislatif (caleg) yang memiliki kemampuan finansial besar tanpa terlalu menitikberatkan pada kaderisasi dan loyalitas partai.
“Gak perlu pusing pengkaderan, gak perlu pusing PDLT lagi. Kalau begitu, Golkar bisa jadi pemenang lagi, kalau kita juga mau pragmatis seperti itu, kalau hanya mau menang,” sindir Armin, yang kini mengaku sudah nonaktif dari kepengurusan Golkar Sulsel.
Armin menegaskan, strategi pragmatis seperti itu sudah banyak diterapkan oleh partai lain untuk mendulang kursi di parlemen. Namun ia mengingatkan, pendekatan semacam itu berpotensi menggerus nilai-nilai ideologis dan kaderisasi yang selama ini menjadi ciri khas Partai Golkar.
“Kalau semua diukur dengan uang, kita kehilangan ruh demokrasi. Golkar bisa menang, tapi demokrasi yang rugi,” ucapnya.
Armin menyebut bahwa bila pola rekrutmen caleg hanya berorientasi pada kekuatan modal, maka empat poin utama dalam Panca Sukses Golkar, mulai dari penguatan kader, ideologi, hingga pengabdian masyarakat akan terabaikan.
“Kalau yang diutamakan hanya isi tas, bukan isi kepala, maka jangan heran kalau partai besar pun kehilangan arah perjuangan,” Pungkasnya.














