kabarbursa.com
kabarbursa.com
Opini  

OPINI: Merawat Semangat Kartini Dengan Warisan Pena Buku dan Keberanian

OPINI: Merawat Semangat Kartini Dengan Warisan Pena Buku dan Keberanian
Koordinator PKH Maros Sri Marlina S.Pd.I M.Si

Oleh: Sri Marlina S.Pd.I M.Si, Koordinator PKH Kabupaten Maros

KabarMakassar.com — “Habis gelap terbitlah terang.” Ungkapan R.A. Kartini itu bukan sekadar semboyan, melainkan pesan abadi bahwa pendidikan adalah cahaya yang mengangkat derajat manusia, terutama perempuan, dan memutus rantai kemiskinan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Semangat Kartini mengajarkan bahwa kemerdekaan perempuan lahir dari ilmu. Maka, perjuangannya tidak berhenti pada kesetaraan, tetapi juga pada keadilan akses pendidikan bagi semua.

Kartini bermimpi tentang perempuan yang merdeka melalui pendidikan. Jika hari ini kita melanjutkan perjuangannya, maka wujud nyatanya adalah memastikan tidak ada lagi anak yang putus sekolah karena keterbatasan ekonomi. Sebab pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk melawan kemiskinan.

Jika R.A. Kartini hidup di masa kini, ia mungkin akan berdiri di depan kelas, di sudut-sudut desa, dan di ruang-ruang belajar sederhana, memastikan setiap anak perempuan memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan meraih masa depan.

Maka, menjadi “Kartini masa kini” berarti membuka akses ilmu seluas-luasnya dan menutup celah kemiskinan yang menghambat generasi.

Kartini tidak hanya berbicara tentang emansipasi, tetapi juga tentang keadilan sosial. Pendidikan untuk semua, kemiskinan harus dilawan. Keyakinan itu sederhana namun kuat: anak perempuan yang bersekolah adalah kunci keluarga keluar dari jerat kemiskinan.

Warisan Kartini adalah pena, buku, dan keberanian untuk memulai perubahan. Tugas kita hari ini adalah memastikan warisan itu sampai ke tangan seluruh anak Indonesia, khususnya perempuan dan kelompok rentan.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak membiarkan kemiskinan merampas hak anak untuk belajar. Karena itu, semangat Kartini harus terus dihidupkan melalui komitmen nyata dalam memajukan pendidikan.

Kartini percaya bahwa ketidaktahuan (bodoh) berbanding lurus dengan kemiskinan dan keterbelakangan. Maka, melawan kemiskinan harus dimulai dari membuka akses pendidikan yang merata dan berkeadilan.

Dalam peringatan Hari Kartini, Koordinator PKH Kabupaten Maros menggaungkan semangat tersebut melalui “Bom Spirit Kartini” kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM) PKH serta ASN Kementerian Sosial di Kecamatan Bontoa. Pesan yang disampaikan sederhana namun bermakna: jangan pernah melupakan sejarah, dan setiap perempuan harus saling menguatkan agar semangat Kartini terus hidup sepanjang masa.

Seperti penegasan Koordinator Kabupaten PKH Maros, perjuangan Kartini tidak boleh berhenti pada seremonial, tetapi harus menjadi energi kolektif untuk terus menumbuhkan harapan dan pendidikan bagi semua.

“Habis gelap terbitlah terang.”

error: Content is protected !!