Oleh: Sri Marlina (Koordinator Program Keluarga Harapan Kemensos RI di Kabupaten Maros)
KabarMakassar.com — Indonesia teriak “SDM Unggul 2045” tapi selama ini gerbang kampus dijaga uang pangkal + UKT mahal. Anak tukang becak, anak buruh, anak petani hanya boleh mimpi dari jauh.
Gerakan Ayo Kuliah lewat KIP Kuliah mematahkan itu. Ini bukan bansos. Ini kebijakan afirmasi pro-poor paling telanjang: negara bilang ke anak miskin, “Kemiskinan bapak ibumu bukan salahmu. Otakmu yang jadi tiket.”
Dan 2026 negara serius. Data Kemdiktisaintek: anggaran KIP Kuliah naik jadi Rp15,32 triliun dengan sasaran 1.047.221 mahasiswa. Dari Rp6,5 triliun di 2020 ke Rp14,9 triliun di 2025, sekarang tembus Rp15,3 triliun. Itu artinya 1 juta lebih anak prasejahtera dapat UKT 0 + uang saku. 7967
Pandangan Ahli: Ini Pemutus Rantai Kemiskinan Tercepat
1. Ekonomi – Jeffrey Sachs
“Investasi pendidikan tinggi untuk kaum miskin punya imbal hasil sosial paling tinggi.” 1 sarjana dari keluarga miskin bisa angkat 5-7 anggota keluarga keluar dari kemiskinan. Rp15,3 triliun hari ini = mesin pencetak kelas menengah 20 tahun ke depan.
2. Sosiologi – Pierre Bourdieu
Kemiskinan = “kekerasan simbolik”. Anak miskin divonis: “kamu bukan tandingan anak pejabat”. KIP Kuliah 2026 memotong vonis itu. Negara kasih “modal budaya” gratis: akses kampus, dosen, jaringan, gelar. Tanpa ini, anak prasejahtera selamanya jadi penonton di negeri sendiri.
3. Pendidikan – Ki Hajar Dewantara
“Tut wuri handayani” — negara di belakang mendorong. KIP Kuliah jalankan itu: bayar UKT, kasih uang saku, siapkan asrama. Tugas negara cuma satu: pastikan anak miskin tidak berhenti di tengah jalan karena perut kosong.
Jangan Setengah Hati
1 juta kuota itu besar, tapi akan gagal kalau:
1. Birokrasi dipersulit. Anak prasejahtera tidak punya waktu + biaya ngurus 20 berkas. Kalau admin menang, miskin kalah lagi.
2. Setelah lulus dibuang. Kasih link magang + kerja. Kalau tidak, gelar S1-nya hanya jadi piagam pajangan.
3. Stop stigma “anak KIP = anak bodoh”. Justru merekalah yang lolos seleksi dengan perut lapar. Itu mental baja, bukan mental subsidi.
Kalau gagal mengawal 1.047.221 mahasiswa ini, maka “Indonesia Emas 2045” cuma jargon untuk anak orang kaya. Tapi kalau berhasil, 2046 panggung wisuda akan penuh anak tukang becak anak si petani anak anak dari bawa kolong dan gang sempit yang bapaknya nangis paling kencang di barisan depan menyaksikan anaknya dipelihara oleh negara memutus rantai kemiskinan.
Karena kehadiran negara paling mulia bukan saat bagi sembako. Tapi saat bilang ke 1 juta anak miskin: “Kursimu di kampus sudah dibayar lunas negara Rp15,3 triliun. Sekarang buktikan kamu layak.”
Gerakan Ayo Kuliah untuk anak prasejahtera adalah perwujudan nafas Pancasila sebagai dasar negara yang diberikan kepada mereka yang menyulam cita cita tapi lumpuh kemampuan ekonomi sebab harus bertarung takdir terlahir dari Rumah bukan pewaris yang menyiapkan ekonomi mapan. Mereka terlahir dan terbentur lalu akhirnya terbentuk oleh kerasnya bertahan di garis kemiskinan ,tapi darisitulah mereka terdidik merintis di perjalanan hidup menjadi generasi tangguh warisan hidup negereri ini.















