KabarMakassar.com — Bupati Pangkep, Muhammad Yusran Lalogau, menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat budaya literasi pasca dirinya menerima penghargaan Tokoh Literasi pada malam puncak Kabar Makassar Award 2025 di Menara Pinisi Universitas Negeri Makassar, Jumat (29/08) lalu.
Selama kepemimpinannya, Yusran dinilai konsisten membangun ekosistem literasi inklusif, mulai dari peningkatan layanan perpustakaan, penguatan literasi sekolah, hingga penyediaan ruang baca di desa-desa.
Kata Yusran upaya telah Ia lakukan untuk menumbuhkan minat baca sekaligus menekan kesenjangan akses literasi masyarakat pesisir dan kepulauan.
“Kita tidak ingin literasi hanya jadi slogan. Pemerintah harus hadir untuk mendayagunakan potensi ini secara nyata,” tegas Yusran, Rabu (10/09).
Yusran mengatakan , pihaknya tengah mengupaya agar menjaga bahasa daerah dari kepunahan. Menurutnya, generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa lontara, tergantikan oleh bahasa gaul atau pergaulan sehari-hari.
“Kalau tidak kita siapkan dari sekarang, bahasa daerah bisa hilang. Itu sebabnya kita fokus melatih guru-guru agar bisa mengajarkan bahasa daerah di sekolah, entah lewat ekstrakurikuler atau mata pelajaran khusus,” ujarnya.
Langkah awal yang disiapkan yakni pelatihan tenaga pendidik bahasa daerah, kemudian menempatkan mereka di sekolah yang memiliki banyak murid potensial. Dengan begitu, program ini bisa berjalan bertahap meski tidak semua sekolah langsung siap.
Yusran menyadari tantangan terbesar bukan hanya menyediakan kurikulum, tapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat. Menurutnya, upaya melestarikan bahasa daerah harus dibarengi kolaborasi dengan sekolah, orang tua, komunitas budaya, hingga media.
“Tidak mungkin pemerintah sendiri. Kolaborasi adalah kunci. Kita butuh dukungan semua pihak untuk memastikan literasi, termasuk bahasa daerah, bisa terus hidup,” katanya.
Bagi Yusran, penghargaan Tokoh Literasi bukan akhir, melainkan titik awal tanggung jawab lebih besar. Ia menekankan bahwa apresiasi tersebut akan menjadi dorongan moral untuk memperluas jangkauan program literasi sekaligus menjaga warisan budaya Pangkep.
“Penghargaan ini milik masyarakat Pangkep. Kita akan terus jaga agar literasi tidak hanya kuat di buku dan perpustakaan, tapi juga di bahasa, budaya, dan kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.














