kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Sulsel Fokus Genjot Hilirisasi Sektor Perikanan dan Kakao

Sulsel Fokus Genjot Hilirisasi Sektor Perikanan dan Kakao
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel, Asrul Sani (dok. KabarMakassar)

KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan mendorong hilirisasi komoditas unggulan sebagai strategi utama meningkatkan investasi daerah pada 2026. Langkah tersebut difokuskan pada pengembangan industri pengolahan berbasis potensi sumber daya lokal.

Pemerintah Provinsi Sulsel menilai sektor perikanan, perkebunan, hingga pertambangan memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi industri hilir. Potensi tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) Sulsel, Asrul Sani mengatakan Sulsel memiliki sumber daya unggulan yang tersebar di sejumlah wilayah. Menurutnya, potensi tersebut harus dipromosikan secara agresif kepada investor.

“Sebenarnya kita sudah melakukan pemetaan potensi-potensi unggulannya Sulawesi selatan. Seperti kita tahu kita punya potensi yang besar di sektor perikanan dan kelautan, seperti ikan, tuna, tongkol, cakalang. Itu tersebar di Teluk Bone, terbesar itu ada di Bulukumba, ada di Sinjai. Begitu juga di Selat Makassar seperti di Barru, Pangkep, Pinrang,” ujar Asrul Sani, saat diwawancarai, belum lama ini.

Selain perikanan tangkap, Sulsel juga disebut memiliki potensi besar di sektor budidaya perikanan. Pemerintah daerah mencatat produksi udang, rajungan, kepiting, hingga rumput laut menjadi komoditas unggulan yang berdaya saing nasional.

“Kita juga punya potensi udang, itu kita urutan keempat nasional secara produksi. Kita juga punya rajungan yang secara nasional itu kita urutan pertama produksi ini. Kemudian kita punya rumput laut yang juga di urutan pertama nasional dengan produksi kurang lebih 4 juta ton per tahun. Nah ini potensi-potensi yang harus kita dorong ke para investor,” katanya.

Pemprov Sulsel, kata dia, juga mendorong hilirisasi sektor perkebunan, khususnya kakao. Meski menjadi salah satu produsen kakao terbesar nasional, Sulsel masih menghadapi persoalan pasokan bahan baku industri pengolahan.

“Selain itu kita juga punya potensi di sektor perkebunan seperti kakao. Kakao itu kita urutan ke tiga nasional untuk produksinya Meskipun sebenarnya dari sisi industrinya sudah ada di sini, kalau kita lihat ekspor-impor itu, kita sebenarnya masih mengimpor bahan baku coklat. Berarti ada industri yang tidak mencukupi bahan bakunya di Sulsel atau khususnya komoditas coklat,” ujar Asrul.

Pemprov Sulsel kini mendorong investor tidak hanya membangun industri pengolahan, tetapi juga memperkuat sektor hulu. Langkah tersebut dinilai penting agar kebutuhan bahan baku industri dapat terpenuhi secara berkelanjutan.

“Untuk itu kita selalu mempromosikan ke calon investor itu. Jadi jangan hanya membangun industri-nya, tapi kita dorong juga hulunya, budidayanya. Jadi dia investasinya dari hulu ke hilir. Jadi membangun industri-nya, membangun juga budidayanya. Supaya kebutuhan untuk industri-nya mencukupi,” tutur Asrul.

Pemprov Sulsel juga mengaitkan program hilirisasi dengan kebijakan nasional terkait komoditas prioritas ekspor. Asrul menyebut sejumlah komoditas unggulan Sulsel masuk dalam daftar prioritas hilirisasi nasional.

“Dan kalau merujuk target Bapak Presiden itu ada 28 komoditas prioritas untuk dilakukan hilirisasi. Itu 6 atau 7 diantaranya komoditas prioritas itu ada di Sulsel. Itu semuanya orientasinya ekspor. Nah kalau itu yang harus kita dorong ya tentunya, pasti bergerak, pasti investasinya tumbuh,” pungkas Asrul Sani.

error: Content is protected !!