KabarMakassar.com — Pemerintah menargetkan program Sekolah Rakyat mampu menjadi penopang utama pengentasan kemiskinan di Indonesia.
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), A. Muhaimin Iskandar, menyebut program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu akan langsung menyasar 3 juta masyarakat miskin ekstrem.
Menurut Muhaimin, angka tersebut dihitung berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), yang menempatkan anak-anak dari keluarga miskin ekstrem sebagai penerima manfaat utama.
“Sekolah Rakyat yang sedang Bapak-Ibu geluti hari ini akan berdampak kepada 3 juta orang miskin yang tertangani dengan sungguh-sungguh,” kata Muhaimin, Minggu, (24/08).
Muhaimin menegaskan, pertumbuhan jumlah Sekolah Rakyat ke depan tidak hanya berdampak pada 3 juta penerima manfaat langsung, tetapi juga akan memengaruhi kehidupan 27 juta masyarakat miskin di seluruh Indonesia.
“Ini modal sangat besar untuk investasi Indonesia berjangka 15–20 tahun ke depan. Dari sekolah inilah kita harap lahir generasi baru yang mandiri, berdaya, dan memutus rantai kemiskinan,” ujarnya.
Dengan jumlah keluarga miskin di Indonesia yang masih tinggi, Sekolah Rakyat diposisikan sebagai rumah pemberdayaan. Selain mengurangi beban biaya pendidikan, sekolah ini diharapkan memperkuat kemampuan akademis sekaligus karakter anak-anak miskin agar mereka memiliki kesempatan yang sama dengan kelompok masyarakat lainnya.
Skala besar program ini juga tercermin dari sisi kelembagaan. Berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2025, Menko PM Muhaimin diberi mandat untuk mengoordinasikan 47 kementerian dan lembaga (K/L) demi menyukseskan pelaksanaan Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia.
Langkah ini, menurut Muhaimin, penting untuk memastikan bahwa program berjalan konsisten, terintegrasi, dan tepat sasaran.
Sekolah Rakyat diproyeksikan menjadi salah satu instrumen efektif memutus rantai kemiskinan di Indonesia. Selain memberikan pendidikan berkualitas kepada anak-anak miskin, program ini juga mengurangi beban pengeluaran keluarga miskin untuk biaya pendidikan.
Dengan demikian, anak-anak dari keluarga miskin ekstrem tidak hanya mendapat akses pendidikan formal, tetapi juga jaminan masa depan yang lebih cerah.
“Jika guru dan kepala sekolah bersungguh-sungguh, hasilnya akan luar biasa. Bukan hanya 3 juta orang, tapi 27 juta rakyat miskin akan ikut merasakan dampaknya,” tutup Muhaimin.














