KabarMakassar.com – Politisi perempuan yang menempati jabatan puncak di partai politik bukan lagi sekadar wacana, tapi kenyataan yang kini mulai terwujud di panggung politik Sulawesi Selatan (Sulsel).
Dalam dinamika kepartaian yang selama ini kerap didominasi oleh laki-laki, dua partai besar Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat menunjukkan bahwa perempuan tak lagi hanya menjadi pelengkap dalam struktur, tapi juga pemegang kendali.
Langkah PAN Sulsel mencatat sejarah penting. Untuk pertama kalinya, pucuk pimpinan DPW PAN Sulsel dipercayakan kepada seorang perempuan, Husniah Talenrang, politisi asal Kabupaten Gowa.
Penetapannya diumumkan langsung oleh Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan, dalam pertemuan terbatas di Jakarta pada 11 Mei 2025 lalu. Di bawah kepemimpinannya, Husniah akan didampingi oleh Chaidir Syam sebagai sekretaris sosok bupati Maros dua periode yang selama ini dikenal memiliki loyalitas tinggi terhadap partai.
Sementara itu, Partai Demokrat Sulsel juga sedang menggeliat dengan agenda penyegaran di tingkat Kota Makassar. Setelah Adi Rasyid Ali mengundurkan diri sebagai Ketua DPC Demokrat Makassar, tiga nama disodorkan ke DPP Demokrat.
Menariknya, dua di antaranya adalah perempuan yaitu Aliyah Mustika Ilham, Wakil Wali Kota Makassar, dan Fatma Wahyuddin, Ketua Fraksi Demokrat DPRD Sulsel. Mereka bersaing dengan Andi Januar Jaury Dharwis, figur laki-laki yang juga memiliki rekam jejak kuat dalam struktur partai.
Tak hanya kedua partai itu, Partai besar seperti Nasdem telah lebih dulu melantik Andi Rachmatika Dewi Yustitia Iqbal menjadi Ketua DPD Partai Nasdem Kota Makassar.
Belum lama ini juga, figur perempuan bertaburan pada Pilkada 2024. Setidaknya ada 15 figur perempuan yang memastikan ikut menjajal peruntungan di pesta demokrasi Sulsel beberapa waktu lalu
Mulai dari, bertarung di Gubenur Sulsel Fatmawati Rusdi (Istri dari Rusdi Masse), bertarung di Pilwalkot Makassar Indira Yusuf Ismail (Isti Danny Pomanto), Anggota DPRD Sulsel, Rizki Mulfiati Luthfi. Srikandi NasDem, dan Aliyah Mustika Ilham.
Di Kabupaten Barru, setidaknya ada Andi Ina Kartika Sari dan Ketua PKK Kabupaten Barru anak Suardi Saleh, dr Ulfah Nurul Huda Suardi. di Pilwalkot Palopo ada Nurhaenih, Andi Tenri Karta dan owner skincare Putri Dakka.
Sementara Pinrang ada Andi Hastri, di Sinjai Andi Kartini. Pilwalkot Parepare istri Ketua Golkar Sulsel Taufan Pawe yang juga mantan Wali Kota Parepare dua periode ini, Erna Rasyid Taufan, dan Kabupaten Sidrap ada Nur Kanaah dan terakhir di kabupaten Gowa Husniah yang kini menjadi Ketua PAN Sulsel juga Bupati Gowa.
Fenomena ini memantik perhatian, Apakah keterlibatan perempuan di pucuk pimpinan partai dan Pilkada adalah cerminan kemajuan politik atau sekadar kosmetik politik menjelang tahun politik nasional mendatang?
Menanggapi fenomena ini, Pegiat Isu Gender dan Demokrasi Andi Sri Wulandani, menyebut bahwa munculnya perempuan dalam bursa ketua partai dan pilkada bukan hanya sinyal keterbukaan sistem politik, tetapi juga bukti meningkatnya kualitas kepemimpinan perempuan.
“Ini hal yang sangat positif. Munculnya nama-nama perempuan sebagai kandidat ketua partai adalah indikator nyata bahwa kesadaran politik perempuan terus tumbuh, dan kapasitas mereka pun makin diakui,” ujarnya kepada KabarMakassar, Kamis (15/05).
Wulandani menegaskan bahwa, saat ini mekanisme di dalam partai tidak memandang gender, melainkan berpegang pada kualitas individu, banyak perempuan yang terjun ke dunia politik adalah figur yang berkompeten.
“Ini bukan soal perebutan antargender. Yang harus dilihat adalah kapasitas, rekam jejak, dan konsistensi dalam karier politik. Jika perempuan memenuhi syarat, tidak ada alasan untuk tidak memberi mereka ruang,” tambahnya.
Ia juga menyinggung soal pentingnya kesiapan mental dan ketangguhan dalam menghadapi benturan politik. Menurutnya, perempuan yang saat ini duduk di kursi puncak partai dan tengah bersaing bukan hanya soal prestise, tapi juga keberanian mengambil keputusan sulit, menghadapi benturan internal, serta menjaga soliditas dan elektabilitas partai.
Perempuan yang masuk ke ranah ini tentu telah siap dengan segala dinamika mulai dari intrik hingga ujian publik.
“Dunia politik memang keras, tapi politisi perempuan yang telah sampai ke titik ini pasti sudah siap mental. Politik itu bukan soal lembut atau keras, tapi soal ketegasan dalam membawa perubahan,” tegasnya.
Menurutnya, keberadaan perempuan dalam struktur tertinggi partai di daerah tidak hanya simbolis, tetapi menjadi agen perubahan yang merangkul semua kelompok masyarakat.
“Perempuan harus terus maju dan menjadi inspirasi, tidak hanya untuk perempuan lain, tetapi juga untuk kelompok rentan yang selama ini jarang terwakili. Politik itu tentang kebermanfaatan seluas-luasnya,” harap Wulandani.
Dengan perkembangan ini, Sulawesi Selatan menandai era baru keterlibatan perempuan dalam politik. Bukan hanya sebagai pelengkap, tapi sebagai pemegang kendali arah partai dan pembuat keputusan strategis.














