KabarMakassar.com — Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof. Drs Hamdan Juhannis, melempar wacana agar Idrus Marham tetap memimpin Ikatan Keluarga Alumni (IKA) dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama bertema ‘Alumni Berkiprah, Bangsa Berjaya’ di Hotel dan Convention UIN Alauddin, Jalan Sultan Alauddin, Jumat (27/02).
Di hadapan ratusan alumni, Hamdan menyebut kepengurusan IKA di bawah Idrus Marham sebagai “masa keemasan” sepanjang sejarah IKA, sejak era IAIN hingga menjadi UIN.
“Saya berani mengatakan, sejak adanya pengurus IKA IAIN sampai IKA UIN, inilah masa keemasan,” tegas Prof Hamdan.
Ia menilai, IKA tidak lagi sekadar paguyuban atau ajang kumpul semata, melainkan telah bertransformasi menjadi wadah aktualisasi dan kekuatan strategis alumni. Namun dalam nada reflektif, Hamdan mengingatkan agar kejayaan tersebut tidak bergantung pada faktor kebetulan atau figur semata.
“Jangan sampai ini hanya peristiwa sesaat atau sporadis karena kebetulan dipimpin tokoh kaliber seperti pak Idrus Marham,” tegasnya.
Bahkan, dalam suasana yang disambut tepuk tangan alumni, Hamdan sempat melontarkan wacana agar Idrus Marham tetap memimpin.
“Bagaimana kalau tokoh kaliber yang memimpin sekarang ini kita putuskan saja jadi ketua IKA seumur hidup?” katanya, disambut riuh hadirin.
Meski bernada guyon, pernyataan itu dinilai sebagai sinyal kuat dukungan terhadap keberlanjutan kepemimpinan Idrus Marham.
Hamdan menekankan momentum keemasan ini harus dirancang berkelanjutan dan berdampak sistemik bagi pengembangan kampus.
“Keberlanjutannya harus memberi dampak sistemik bagi pengembangan UIN Alauddin sendiri,” jelasnya.
Ia juga mengungkap rencana pembentukan Forum Koordinasi IKA PTKIN secara nasional, dengan Ketua Umum IKA UIN Alauddin didorong menjadi koordinator jaringan tersebut. Menurutnya, langkah ini akan memperkuat posisi tawar alumni sebagai kekuatan civil society.
Dalam kesempatan itu, Hamdan turut menyinggung capaian akademik kampus, termasuk kontribusi guru besar yang disebutnya terbesar di antara PTKIN di Indonesia, kedua setelah Jakarta.
“Saya tidak pernah membayangkan, 10–20 tahun lalu, sebagai produk asli IAIN, kita bisa berada di posisi seperti ini,” tukasnya.














