KabarMakassar.com — Gubernur Maluku Utara (Malut), Sherly Tjoanda Laos, blak-blakan mengungkap paradoks ekonomi di daerahnya.
Di tengah lonjakan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia, potensi sektor riil justru masih banyak yang belum tergarap, termasuk perikanan yang nilainya mencapai Rp14 triliun.
“Potensi perikanan kami sekitar Rp14 triliun, tapi baru dimanfaatkan sekitar 20 persen. Ini karena masih kurang armada tangkap, investor, cold storage, dan industri pengolahan,” tegas Sherly dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) di jalan Pettarani, Kamis (26/03).
Ia juga menjelaskan, sektor perikanan seperti tuna, cumi, dan hasil laut lainnya disebut masih sangat terbuka lebar. Minimnya fasilitas penyimpanan seperti cold storage dan industri pengolahan menjadi celah yang bisa dimanfaatkan investor.
“Kalau produksi dan hilirisasi dilakukan di dalam daerah, maka dampaknya besar: lapangan kerja terbuka, ekonomi berputar di Maluku Utara,” jelasnya.
Ia menekankan, kondisi ini menjadi peluang besar bagi investor, khususnya jaringan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS), untuk masuk dan mengambil peran strategis dalam pengembangan sektor kelautan dan perikanan di Maluku Utara.
Di sisi lain, Sherly juga mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Maluku Utara yang mencapai 34 persen secara tahunan didorong kuat oleh hilirisasi nikel. Namun, pertumbuhan tersebut belum dirasakan secara merata oleh masyarakat.
“Pertumbuhan ini tidak inklusif. Sektor pertanian, peternakan, dan perikanan belum mandiri. SDM dan infrastruktur juga masih terbatas,” ujarnya.
Ketimpangan itu terlihat dari tingginya ketergantungan Maluku Utara terhadap pasokan dari luar daerah. Bahkan, sekitar 80 persen kebutuhan pangan dan logistik masih didatangkan dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.
“Ini peluang. Bukan kelemahan. Kami justru membuka pintu bagi para saudagar KKSS yang punya kekuatan di logistik, pelayaran, hingga supply chain untuk masuk,” kata Sherly.
Ia menekanan pentingnya kolaborasi dan jejaring dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
“Networking adalah segalanya. Dengan kolaborasi, kita bisa tumbuh bersama dan memastikan ekonomi tidak hanya tinggi, tapi juga dirasakan semua lapisan masyarakat,” tukasnya.














