KabarMakassar.com — Tren positif terus terlihat di pasar modal Sulawesi Selatan pada triwulan pertama tahun 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Barat mencatat bahwa jumlah investor atau pemilik Single Investor Identification (SID) di wilayah ini terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan, didorong oleh meningkatnya minat generasi muda terhadap dunia investasi.
Kepala Kantor OJK Sulselbar, Moch Muchlasin, mengungkapkan bahwa literasi pasar modal di kalangan masyarakat, khususnya anak muda di Makassar, telah meningkat cukup pesat.
“Dari sisi pasar modal, banyak yang sudah melek. Bahkan saya lihat industri perumahan juga ikut terdorong karena meningkatnya daya beli dan kesadaran investasi,” ujar Muchlasin.
Menurut data yang dihimpun OJK hingga Maret 2025, terjadi pertumbuhan tahunan (year-on-year/yoy) yang cukup mencolok pada jumlah SID untuk tiga instrumen utama pasar modal: saham, reksa dana, dan Surat Berharga Negara (SBN).
Untuk instrumen saham, jumlah SID tercatat sebanyak 135.395 per Maret 2025, naik dari 128.450 pada Desember 2024 dan 102.305 pada Desember 2023. Artinya, ada pertumbuhan sebesar 24,39% secara tahunan.
Sementara itu, untuk reksa dana, jumlah investor naik dari 303.350 pada akhir 2023 menjadi 382.599 di Desember 2024 dan terus meningkat hingga 390.429 pada Maret 2025. Pertumbuhan tahunan pada instrumen ini mencapai 18,74%.
Adapun SID untuk SBN tercatat tumbuh dari 15.151 pada Desember 2023 menjadi 17.938 pada Desember 2024, dan kembali naik ke angka 18.035 di triwulan pertama 2025. Pertumbuhan tahunan tercatat sebesar 13,19%.
Muchlasin menekankan bahwa perkembangan ini mencerminkan potensi besar yang dimiliki Sulawesi Selatan, terutama Kota Makassar, sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.
“Potensi cukup besar di wilayah Sulsel khususnya Makassar, karena saat ini anak muda juga sudah melek mengenai investasi ini,” jelasnya.
Pertumbuhan yang konsisten di semua instrumen tersebut menjadi indikator bahwa pasar modal kini semakin menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.
Tak hanya didominasi oleh kalangan profesional, tetapi juga mulai diminati generasi muda yang kini aktif berinvestasi secara digital melalui berbagai platform.
Kondisi ini, menurut Muchlasin, menjadi peluang sekaligus tantangan untuk terus meningkatkan edukasi dan perlindungan konsumen, agar pertumbuhan investor juga diiringi dengan pemahaman yang baik terhadap risiko investasi.
Dengan tren pertumbuhan positif ini, OJK Sulselbar optimistis bahwa inklusi keuangan di sektor pasar modal akan terus meningkat, mendorong perekonomian daerah melalui jalur investasi yang sehat dan berkelanjutan.














