KabarMakassar.com — Tradisi Ma’rimpa Salo di Sinjai merupakan bentuk rasa syukur masyarakat pesisir kepada Tuhan atas keberhasilan panen.
Tradisi ini dijalankan secara gotong royong dengan melibatkan banyak pihak. Panen yang dimaksud mencakup Ruma Lao atau panen padi, serta Ma’ppaenre Bale yakni panen ikan.
Prosesi Ma’rimpa Salo biasanya dilakukan dengan menangkap ikan di sungai. Warga turun bersama-sama menghadang aliran ikan dari hulu menuju muara, diiringi bunyi kendang dan tabuhan bambu. Suasana meriah diperkuat oleh deretan perahu yang ikut mengiringi jalannya ritual.
Dalam penyelenggaraannya, ada sejumlah tokoh yang berperan penting. Mereka diundang melalui musyawarah khusus sebelum pelaksanaan.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain: Arung, pemimpin tertinggi yang memegang keputusan adat; Gella (kepala desa) dan To Matoa (pemuka masyarakat) yang mengatur jalannya kegiatan; serta Kampung Lolo yang menyiapkan seluruh kebutuhan pesta.
Selain itu, ada pula Pabelle yang mengurus perlengkapan di laut, Ponggawa Lopi sebagai nakhoda sekaligus pengarah kru, serta Sanro atau dukun adat yang memimpin jalannya ritual.
Unsur hiburan juga hadir melalui Paggenrang, kelompok penabuh kendang di atas perahu, sementara konsumsi masyarakat dipersiapkan oleh Paddareheng atau padawa-dawa.
Pemerintah daerah dan masyarakat luas juga turut serta memberi dukungan dalam pelaksanaan pesta adat ini.
Tradisi turun-temurun ini sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa pernah terputus.
Selama lebih dari 40 tahun, Ma’rimpa Salo tetap menjadi bagian dari identitas kultural Sinjai, sekaligus simbol keterikatan masyarakat dengan alam dan hasil panen yang mereka syukuri.
Tahun 2025 ini, festival budaya pesisir Marimpa Salo kembali akan akan kembali digelar dan dipusatkan di Desa Bua, Kecamatan Tellulimpoe, pada 10 Oktober 2025 mendatang.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Sinjai, Tamzil Binawan, menyebut rangkaian kegiatan dimulai lebih awal, sejak 6 Oktober 2025. Sejumlah lomba bernuansa budaya dan hiburan disiapkan untuk masyarakat maupun pengunjung.
“Masyarakat bisa mengikuti beragam kegiatan mulai dari lomba perahu hias, balap perahu, layang-layang, hingga olahraga tradisional seperti sepak takraw dan bola voli. Ada juga lomba domino, renang, senam, video konten budaya pesisir, hingga kuliner khas dan buah lokal,” jelas Tamzil.














