KabarMakassar.com — Bangun wawasan kebangsaan dalam berinteraksi di ruang digital, Kemkominfo dan GP Ansor Sulsel menggelar dialog literasi digital di Menara Phinisi UNM, Makassar, Rabu (19/04).
Koordinator Literasi Digital Kemkominfo, Rizki Amelia Cawidu menjelaskan sebanyak kurang lebih 212 juta dari 270 juta penduduk Indonesia merupakan pengguna internet aktif.
Meski begitu, dari jumlah tersebut hanya sekitar 32 persen para pengguna internet yang mampu mengidentifikasi hoax atau berita bohong.
Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan literasi digital yang dapat menekan berita-berita hoax atau konten negatif.
"Tanpa kita sadari kita sudah menggunakan sosial media itu kurang lebih 6 jam 37 menit sehingga keseharian kita tidak bisa terlepas dari sosial media," ungkapnya.
Selain itu, Pegiat Media Sosial, Mardiana Rusli menjelaskan kondisi situasi politik dan demokrasi kita saat ini menjadi pemikiran yang luas dimana semua orang dapat berekspansi di dunia maya.
Menurutnya, kebanyakan orang-orang mengelola media sosial secara ekonomi dengan mengumpulkan modal tanpa memikirkan informasi penting dan positif yang disebarkan.
Sehingga perilaku sosial dan edukasi seseorang berubah bahkan mengikis nilai moral yang ada.
"Kita punya tantangan yang besar, berinteraksi secara sosial dimana perkembangan banyaknya platform menjadi ruang interaksi yang lebih massif," pungkasnya.
Sementara itu, Dekan FDK UINAM, Firdaus Muhammad menjelaskan bagaimana membangun wawasan kebangsaan di ruang digital dengan meningkatkan literasi yang dapat dilakukan dengan kecakapan pengguna dalam memanfaatkan media digital.
Pengguna juga mesti menguasai teknologi dan update informasi terkini serta kreatif memanfaatkan aplikasi yang ada.
"Banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi dengan klasemen yang berbeda, sekarang bagaimana kita mengimbangi dengan narasi-narasi yang beretika," bebernya.
Selanjutnya Dosen FSD UNM, Irfan Kadir mengatakan keuntungan yang didapatkan ketika memanfaatkan penggunaan aplikasi media sosial tidak hanya kemudahan namun sangat banyak misalnya investasi hingga inovasi.
Menurutnya, aplikasi uang dimanfaatkan dengan positif justru dapat memberikan keuntungan yang besar bagi pengguna termasuk menghasilkan inovasi yang produktif.
"Tahun 2022 sebanyak 10 juta pengguna melakukan trading dan berinvestasi dan membeli saham yang dimana ini tentu memberikan keuntungan dari situ," katanya.
Ia pun mengimbau anak muda untuk fokus menggunakan aplikasi dengan positif dan mengembangkan inovasi yang berdampak baik serta memberikan manfaat atau peluang keuntungan.
"Tidak ada lagi untuk hal-hal negatif di medsos, waktunya kita untuk memanfaatkan media sosial ini sebagai keuntungan," jelasnya.













