KabarMakassar.com — Pemerintah mulai mengantisipasi lonjakan besar arus balik Lebaran 2026 yang diprediksi mencapai puncaknya pada 24 Maret.
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meminta masyarakat aktif memantau kondisi perjalanan secara langsung guna menghindari kepadatan di sejumlah jalur utama.
Langkah ini dilakukan dengan membuka akses pemantauan real time melalui platform Nusantara Hub – Live Streaming yang terintegrasi dengan Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menegaskan, pemerintah berupaya memastikan pergerakan arus balik berjalan lancar di tengah tingginya mobilitas masyarakat.
“Pemerintah berkomitmen memastikan seluruh fasilitas transportasi dan pelayanan publik selama masa mudik dan balik dapat berjalan dengan baik,” ujar Dudy, Minggu (22/03).
Melalui sistem ini, masyarakat dapat memantau langsung kondisi lalu lintas, pergerakan transportasi lintas moda, hingga cuaca dan titik rawan kemacetan di berbagai simpul strategis.
Kemenhub menilai keterbukaan informasi ini penting untuk menekan potensi penumpukan kendaraan, sekaligus mencegah masyarakat terjebak informasi yang tidak akurat.
Arus mudik sebelumnya tercatat mencapai puncak pada 18 Maret (H-3), dengan lonjakan pergerakan di hampir seluruh moda transportasi. Tren tersebut diperkirakan berlanjut pada fase arus balik, bahkan berpotensi lebih padat di sejumlah koridor utama.
Karena itu, masyarakat diminta tidak hanya mengandalkan jadwal perjalanan, tetapi juga menyesuaikan waktu keberangkatan berdasarkan kondisi riil di lapangan.
“Pantauan real time ini kami hadirkan agar masyarakat bisa menentukan waktu dan rute perjalanan secara lebih tepat, sekaligus menghindari kepadatan,” tegasnya.
Selain sebagai pusat informasi, Nusantara Hub juga menjadi bagian dari sistem terpadu yang mendukung layanan mudik gratis serta koordinasi lintas sektor selama periode Angkutan Lebaran.
Kemenhub memastikan pemantauan akan terus dilakukan secara intensif hingga puncak arus balik terlewati. Pemerintah juga mengingatkan masyarakat untuk menjadikan kanal resmi sebagai rujukan utama dalam merencanakan perjalanan, guna menghindari kemacetan dan risiko perjalanan yang tidak perlu.














