KabarMakassar.com — Fenomena pergeseran aktivitas anak muda selama Ramadan 1446 Hijriah/2026 menjadi sorotan di Kota Makassar.
Masjid yang biasanya ramai justru terlihat sepi dari kalangan remaja, sementara kafe-kafe dipadati pengunjung bahkan sebelum waktu berbuka dan saat salat tarawih.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Makassar, Andi Hadi Ibrahim Baso, menilai kondisi ini sebagai perubahan pola sosial yang perlu mendapat perhatian serius.
“Terjadi pergeseran kebiasaan. Anak muda sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di kafe dibandingkan ke masjid, bahkan pada waktu-waktu ibadah,” ujarnya melalui via telpon, Jumat (27/03).
Menurut ketua DPD PKS Makassar itu, fenomena tersebut tidak bisa dibiarkan tanpa solusi. Pemerintah dan DPRD dinilai perlu menghadirkan ruang-ruang kegiatan yang lebih positif agar generasi muda kembali tertarik meramaikan masjid.
Ia juga mendorong adanya regulasi yang mengatur operasional tempat usaha selama Ramadan, khususnya pada waktu salat tarawih.
“Ada usulan agar kafe tutup sementara sekitar dua jam setelah Isya hingga pukul 21.30, lalu bisa kembali buka. Ini untuk memberi ruang bagi masyarakat, terutama anak muda, melaksanakan tarawih,” jelasnya.
Andi Hadi menambahkan, meski beberapa kafe menyediakan musala, kapasitasnya terbatas dan tidak mampu menampung banyak jamaah, sehingga tidak bisa menggantikan fungsi masjid sebagai pusat ibadah.
“Ini bukan sekadar soal tempat, tapi bagaimana kita mengembalikan suasana Ramadan yang lebih hidup di masjid,” tegasnya.
Ia berharap fenomena ini menjadi perhatian bersama, sehingga ada langkah konkret yang bisa diambil untuk menjaga nilai-nilai spiritual Ramadan di tengah perubahan gaya hidup masyarakat.
“Kita berharap bahwa ini menjadi perhatian bersama agar pada Ramadan 2027, lebih banyak ada muda meramaikan masjid untuk ibadah,” tukasnya.














