KabarMakassar.com — Sedikitnya 400 relawan dikerahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar untuk membersihkan kawasan Pasar Terong dan jalan Sawi, Jumat (12/12).
Aksi kerja bakti ini menjadi salah satu rangkaian utama Festival Daur Bumi 2025, program edukasi persampahan yang digelar DLH hingga 14 Desember di Balai Manunggal.
Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 07.30 Wita itu menyasar basement Pasar Terong, dan Jalan Sawi yang memiliki volume sampah harian paling tinggi di wilayah tersebut. Pembersihan dilakukan bersama DP3A, Pandawara Group, Influencer Bule Sampah atau Beni, Kecamatan Bontoala, SKPD terkait, Satgas Kebersihan, lurah, hingga komunitas pemerhati lingkungan lainnya.
Kepala DLH Makassar, Helmy Budiman, mengatakan aksi kolaboratif ini bertujuan memperkuat kesadaran publik mengenai pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari rumah.
“Ini bagian dari edukasi. Kita turun langsung menunjukkan bahwa persoalan sampah harus dihadapi bersama. Kalau setelah 6 bulan sampai 1 tahun sosialisasi masyarakat masih tidak patuh, kita siap melakukan penegakan aturan,” ujarnya.
Helmy menjelaskan, Pasar Terong menjadi salah satu titik prioritas karena menghasilkan 10–20 ton sampah per hari, didominasi sampah organik. Program seperti budidaya maggot, urban farming, hingga integrasi sistem pengolahan limbah disebut hanya bisa berjalan apabila pemilahan sampah dilakukan sejak awal.
Sementara itu, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin (Appi), menegaskan bahwa sampah bukan hanya beban kota, tetapi dapat menjadi sumber nilai ekonomi apabila dikelola dengan benar.
“Makassar butuh perhatian serius soal sampah. Sampah bukan musuh masyarakat jika dikelola. Ini tanggung jawab bersama, dimulai dari rumah tangga hingga lingkungan. Daur Bumi adalah gerakan untuk membangun kesadaran itu,” kata Appi.
Ia menambahkan, kegiatan bersih-bersih dan edukasi serupa akan terus dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari target Makassar Bebas Sampah 2029.
“Kita ingin mengurangi intensitas pembuangan langsung ke TPA. Residu yang tak bisa diolah saja yang dibuang. Ini akan memperpanjang umur TPA dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat,” Pungkasnya.














