KabarSelatan.id — Akhir-akhir ini, sejumlah E-warung diduga melakukan pemotongan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di sejumlah lokasi di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan.
Seiring berhembusnya kabar tak sedap tersebut, Pimpinan Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Jeneponto, Yandi Suryandi mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh pemilik E-warung.
"Kalau ada E-warung yang memotong laporkan ke kami, siapa E-warungnya, kami akan awasi dan kemudian kami akan cabut,"tegasnya saat ditemui diruang kerjanya, Sabtu (10/9).
Bahkan ia mengancam E-warung yang terbukti nakal maka pihaknya tidak akan kembali menunjuk sebagai mitra agen BRI.
"Jadi dia sudah tidak bisa digunakan untuk pencairan BPNT lagi. Bahkan sudah tidak bisa ditunjuk menjadi E-warung lagi," ucap Yandi.
Akibat banyaknya laporan itu, sehingga pihaknya harus dipanggil oleh anggota DPRD Kabupaten Jeneponto.
"Kemarin kami sudah dipanggil anggota dewan dari komisi IV. Kemudian kita juga sudah mempunyai komitmen dengan Komisi IV," bebernya.
Setelah itu kami langsung mengumpulkan E-warung untuk melakukan koordinasi.
"Teman-teman E-warung juga sudah kita ajak konfirmasi terkait pemotongan dan kami juga sudah tanya-tanya," akunya.
Dari hasil pertemuan itu, kami bersama E-warung sepakat bahwa tidak boleh ada pemotongan.
"Tidak menyediakan biaya, tidak ada pemotongan, misalkan jumlah barang, jumlah timbangan. Selayaknya orang jualanlah karena jualnya 1 rak ya 1 rak dong, jual berapa kilo yang berapa kilo dong, kalau jualnya 1 kilo ya beratnya harus 1 kilo juga. Ya itu sudah disepakati sama agen Bri link," cetusnya.
Dikonfirmasi ulang persoalan banyaknya laporan mahasiswa maupun aktivis terkait masalah tersebut. Yandi mengungkapkan laporan itu harus jelas sebab sejauh ini pelapor belum dapat membuktikan siapa oknum yang terlibat.
"Jadi kami balik nanya, siapa oknumnya. Kami juga tidak bisa bertindak atau menindaki kalau kita tidak disampaikan siapa oknum tersebut," tandasnya.
Hanya saja kata dia, laporan yang kerap disuarakan mahasiswa maupun aktivis masih simpang siur lantaran dirahasiakan.
"Oknumnya siapa? rahasia pak, ini kan narasumber, gimana saya bertindak kalau oknumnya saya tidak tahu? Ibarat maling, ada maling ditempat bapak, siapa malingnya, ya silahkan cari sendiri ditempat bapak, ya siapa? gimana saya mau tangkap malingnya kalau saya juga tidak tahu kan lucu juga," jelasnya.
Misalkan ada E-warung yang melakukan pemotongan laporkan kepada kami, siapa E-warungnya kami akan evaluasi, ijinnya akan dicabut sehingga sudah tidak bisa melakukan pencairan BPNT lagi.
Bahkan sudah tidak bisa menjadi E-warung lagi, jadi dia tidak bisa ditunjuk sebagai E-warung kembali.
"Tapi ngomong dulu siapa orangnya. Jika memang ada pemotongan uangnya, timbangannya, dikurangi jumlah telurnya, terus sampai kemarin ada 20 ribu uangnya dipotong itu laporkan kepada kami, kami siap verifikasi, investigasi jika terbukti tak cabut E-warungnya sebab kita sudah komitmen dengan E-warung," pungkasnya.














