KabarMakassar.com — Direktur Makassar International Writers Festival (MIWF), Aan Mansyur, menegaskan bahwa penyelenggaraan MIWF tetap berpegang pada prinsip inklusivitas dan keberpihakan terhadap kelompok rentan. Hal itu disampaikan saat membuka gelaran MIWF di Fort Rotterdam, Kamis (14/05/2026) malam.
Aan mengatakan seluruh program dalam festival dirancang dengan mengacu pada nilai-nilai yang diyakini oleh penyelenggara. Nilai tersebut juga menjadi dasar dalam menentukan bentuk kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Kami bekerja kurang lebih 300 orang. Ada 16 divisi kalau tidak salah. Untuk merancang semua program, harus tetap dipandu oleh nilai-nilai yang kami percaya,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama dengan pemerintah maupun lembaga lain tidak bisa dimaknai sebagai bentuk dukungan penuh terhadap seluruh kebijakan mitra. Ia menegaskan MIWF tetap memiliki posisi kritis terhadap berbagai isu sosial.
“Jadi kolaborasi kami dengan mitra apapun, itu tidak bisa sesederhana dibaca sebagai dukungan hitam putih antara semua kebijakan yang juga diterapkan oleh lembaga yang kami ajak kerja sama. Kami punya sikap,” katanya.
Aan menyebut MIWF selama ini menempatkan diri sebagai ruang inklusif dan aman bagi seluruh kelompok masyarakat. Karena itu, MIWF disebut menolak berbagai kebijakan yang dianggap meminggirkan warga maupun kelompok rentan.
“Bahwa kami tidak sepakat dengan seluruh kebijakan yang meminggirkan warga, yang tidak berpihak sama warga, yang meminggirkan kelompok-kelompok rentan, perempuan, minor gender, kelompok adat, disabilitas. Karena itu semua nilai-nilai yang kami percaya,” tegasnya.
Ia menambahkan, kerja sama dengan pemerintah kota maupun kementerian tidak menghilangkan sikap kritis festival terhadap kebijakan tertentu. Menurutnya, hubungan kerja sama dapat dievaluasi jika bertentangan dengan nilai yang dipegang penyelenggara.
“Artinya, kami boleh bekerja sama dengan pemerintah kota, kementerian, tapi kami akan tetap berdiri sangat kritis sama semua kebijakan yang tadi.itu harus ditegaskan,” jelas Aan.
Dalam kesempatan itu, Aan juga mengungkapkan bahwa terakhir kali MIWF berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Makassar terjadi pada 2013. Setelah itu, terdapat jeda cukup panjang hingga kerja sama kembali dilakukan tahun ini.
Ia menyebut MIWF digerakkan sepenuhnya oleh warga sehingga keputusan kolaborasi tidak hanya ditentukan oleh satu pihak. Karena itu, aspirasi komunitas menjadi pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan.
“Karena festival ini warga yang menggerakkan, dan kalau warga bilang gak mau, ya gak mau kita. Maksudnya ini bukan urusan saya mau. Karena ini digerakkan sepenuhnya oleh warga,” ujarnya.
Aan mengatakan sekitar 300 orang terlibat dalam penyelenggaraan festival yang terbagi dalam 16 divisi kerja. Selain itu, MIWF tahun ini menghadirkan lebih dari 140 program yang membutuhkan koordinasi lintas divisi.
Menurutnya, seluruh keputusan dalam festival diambil secara kolektif tanpa struktur yang hirarkis. Setiap divisi memiliki kewenangan untuk menentukan kesiapan pelaksanaan program sesuai kapasitas masing-masing.
“Di festival ini tidak ada keputusan terpusat, tidak ada keputusan hirarkis. Jadi kalau saya didatangi mitra, saya harus tanya semua divisi,” pungkasnya.














