KabarMakassar.com – Suasana haru mewarnai mediasi penyerahan bayi berinisial R yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Maros, Kamis (21/05).
Kepala DP3A Maros Muhammad Aris tampak tak kuasa menahan tangis saat memimpin proses mediasi tersebut.
Pertemuan itu mempertemukan pihak Rumah Quran, pemerintah desa, kepolisian, serta orang tua kandung bayi yang selama beberapa pekan terakhir menjadi perhatian publik.
Dalam mediasi, masing-masing pihak diberi kesempatan menyampaikan pandangan dan kronologi kejadian sejak bayi ditemukan hingga akhirnya keluarga kandungnya muncul.
Kepala DP3A Maros Muhammad Aris menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang dinilai tetap mengedepankan penyelesaian damai demi kepentingan terbaik bagi anak.
Ia juga menyampaikan salam hormat kepada pemerintah desa dan keluarga yang telah memilih jalan musyawarah.
“Terima kasih atas solusi terbaik yang diambil hari ini,” ujarnya dengan suara bergetar.
Tangis Kadis DP3A pecah saat mendengar penjelasan pihak Rumah Quran yang mengaku hanya berupaya menyelamatkan bayi tersebut namun justru mendapat berbagai tudingan.
“Kita selamatkan bayi, tapi difitnah,” ungkap Kepala Desa Cenrana Baru, Dusun Malaka, Andi Zaenal.
Aris menilai persoalan tersebut harus menjadi pembelajaran bersama, terutama terkait perlindungan anak dan pentingnya komunikasi antar lembaga.
Pembina Rumah Quran, Aliah, mengatakan sejak awal pihaknya siap menyerahkan bayi tersebut apabila orang tua kandung berhasil ditemukan.
Aliah hanya menyayangkan banyaknya kesalahpahaman yang muncul akibat miskomunikasi antarpihak selama proses berlangsung.
“Rumah Quran difitnah, kepala desa difitnah, padahal harusnya hal ini tidak perlu terjadi,” ujarnya.
Mediasi kedua itu akhirnya menghasilkan kesepakatan damai. Bayi R resmi diserahkan kepada keluarga kandung tanpa polemik lanjutan maupun proses tes DNA.
Di akhir mediasi kedua orang bayi R, yang diwakili ibunya, Natasya menyampaikan terima kasih dan permohonan maaf khusunya kepada Rumah Quran PPA Maros atas berita-berita yang bermunculan sebelum mediasi dilaksanakan.
“Kami sangat berterima kasih telah merawat bayi kami selama ini, dan saya juga memohon maaf terkait pemberitaan dan kalimat pernyataan dan penekanan. Sepengetahuan kami anak kami dijaga dan dirawat dengan baik, untuk itu sekali lagi kami minta maaf atas berita-berita yang sebelumnya dan pernyataan sandera atau ditahan itu tidak benar,” ujar Natasya.















