kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

NTP Sulsel Anjlok ke 115,49, Sinyal Daya Beli Petani Melemah

NTP Sulsel Anjlok ke 115,49, Sinyal Daya Beli Petani Melemah
Infografis NTP di Sulsel. (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) pada Maret 2026 tercatat mengalami penurunan signifikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan NTP Sulsel berada di angka 115,49 atau turun 1,17 persen dibandingkan Februari 2026 yang mencapai 116,86.

Penurunan ini menjadi sinyal adanya tekanan terhadap daya beli dan kesejahteraan petani di Sulawesi Selatan, meskipun sejumlah subsektor masih mencatatkan pertumbuhan.

Penurunan NTP ini mencerminkan bahwa kenaikan harga yang diterima petani tidak sebanding dengan peningkatan biaya yang harus mereka keluarkan.

Secara rinci, lima subsektor pertanian menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Subsektor tanaman pangan mencatat NTP sebesar 111,88, hortikultura 115,65, perkebunan rakyat 134,54, peternakan 110,36, dan perikanan 119,59.

Namun, dari seluruh subsektor tersebut, dua sektor justru mengalami kontraksi yang cukup memengaruhi penurunan agregat. Subsektor tanaman pangan turun 0,17 persen, sementara subsektor perkebunan rakyat mengalami penurunan paling dalam hingga 8,30 persen.

Di sisi lain, tiga subsektor lainnya mencatat kenaikan. Hortikultura tumbuh signifikan sebesar 11,15 persen, diikuti peternakan naik 2,43 persen, serta perikanan meningkat 0,86 persen.

Meski ada perbaikan di beberapa sektor, lonjakan tersebut belum mampu menahan penurunan NTP secara keseluruhan.

Terjadi ketimpangan antar subsektor, sehingga kenaikan di beberapa sektor belum cukup kuat untuk mengangkat NTP gabungan.

Tak hanya NTP, indikator lain yakni Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga menunjukkan tren serupa. Pada Maret 2026, NTUP tercatat sebesar 121,69 atau turun 0,93 persen dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan NTUP ini mengindikasikan adanya penyusutan margin usaha di sektor pertanian, yang berpotensi berdampak pada keberlanjutan aktivitas produksi petani.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa sektor pertanian Sulawesi Selatan masih menghadapi tantangan struktural, terutama dalam menjaga keseimbangan antara harga jual hasil produksi dan biaya operasional.

Melihat tren ini, stabilitas kesejahteraan petani ke depan menjadi perhatian penting, terutama dalam menghadapi fluktuasi harga dan biaya produksi yang terus bergerak dinamis.

error: Content is protected !!