KabarMakassar.com — Pelaksanaan Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) yang digelar Bawaslu Sulawesi Selatan menghadirkan penekanan kuat pada pentingnya pemberdayaan komunitas sebagai fondasi pengawasan pemilu.
Akademisi dan pegiat pemilu Dr. Raehana menegaskan bahwa pengawasan partisipatif tidak boleh dipandang sekadar mekanisme teknis, tetapi harus berkembang menjadi gerakan sosial yang hidup dalam masyarakat.
Menurutnya, integritas pemilu tidak hanya dijaga oleh lembaga pengawas, tetapi juga oleh kekuatan jejaring komunitas yang aktif, berdaya, dan memiliki kapasitas untuk melakukan pengawasan secara mandiri.
“Penguatan jaringan dan pemberdayaan komunitas dalam pengawasan partisipatif merupakan fondasi utama untuk memastikan terciptanya pemilu yang berintegritas dan inklusif,” ujar Dr. Raehana, Selasa (18/11).
Dr. Raehana menyebut bahwa pengawasan partisipatif harus dipahami sebagai sebuah gerakan sosial yang melibatkan banyak aktor dan lapisan masyarakat. Ia menilai bahwa keterlibatan warga secara aktif akan memperkuat kapasitas lokal dalam mendeteksi potensi pelanggaran sejak dini.
“Dengan jejaring kolaboratif yang solid dan komunitas yang berdaya, pengawasan tidak hanya menjadi tugas lembaga formal, tetapi menjadi bagian dari budaya demokrasi di masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sinergi antar aktor baik komunitas, organisasi masyarakat sipil, pemuda, hingga kelompok akar rumput berperan krusial dalam menciptakan pemilu yang bersih dan bertanggung jawab.
Langkah ini, lanjutnya, memungkinkan terciptanya ekosistem politik yang lebih sehat, di mana warga tidak hanya menjadi objek pemilu, tetapi bagian aktif dalam mengawal proses elektoral.
Dr. Raehana menegaskan bahwa penguatan jejaring dan pemberdayaan komunitas merupakan kunci keberlanjutan demokrasi, baik di tingkat lokal maupun nasional. Menurutnya, upaya ini menjamin bahwa kualitas pemilu tetap terjaga melalui pengawasan yang inklusif, transparan, dan berbasis partisipasi publik.
“Penguatan komunitas memastikan demokrasi tidak hanya berlangsung lima tahunan, tetapi hidup setiap hari melalui keterlibatan warga,” tutupnya.















