kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Dinkes Sulsel Gencarkan Screening TB di Wilayah Rawan

Dinkes Sulsel Gencarkan Screening TB di Wilayah Rawan
ilustrasi TB (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Kasus Tuberkulosis (TB) di Sulawesi Selatan masih menjadi ancaman serius, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi dan kondisi lingkungan yang tidak sehat. Dinas Kesehatan Sulsel mempercepat program screening untuk mengidentifikasi dan mengobati penderita sejak dini.

Target utama adalah wilayah kumuhpermukiman padat, serta tempat-tempat yang rawan penularan seperti asrama dan lapas. Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, Ishaq Iskandar, menyatakan bahwa fokus utama screening ini adalah mencari indikasi awal penyakit TBC melalui pemeriksaan yang menyasar kelompok berisiko tinggi.

“Memang ini kita mau screening banyak-banyak ya. Kita cari dulu yang ada kemungkinan atau ada tanda bahwa dia ada penyakit. Bukan berarti dia langsung sakit, tapi kan di-screening, dicari, ditapis,” ungkap Ishaq, belum lama ini.

Setelah melakukan screening dan menemukan indikasi TB, langkah berikutnya adalah pengobatan yang tuntas. Selain itu, petugas kesehatan juga melakukan pelacakan kontak erat untuk memastikan penanganan menyeluruh.

“Kalau didapat ini nanti baru kita obati, kemudian cari kontak-kontaknya, kontak serumahnya, kontak sekolahnya, kontak sekantornya. Kontak-kontaknya itu dicari, nanti diperiksa juga. Setelah itu diobati sampai sembuh, 6 bulan minimal ya,” katanya.

Menurut Ishaq, penyebaran TB di Sulawesi Selatan tidak merata dan cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu. Kota-kota besar seperti Makassar menjadi fokus utama karena memiliki kepadatan penduduk yang tinggi.

Selain itu, perhatian khusus diberikan pada daerah-daerah dengan kondisi sosial ekonomi yang rentan seperti kawasan kumuh, padat, dan miskin. Tempat-tempat yang menjadi lokasi berkumpulnya banyak orang, seperti asrama dan lembaga pemasyarakatan, juga menjadi area rawan penyebaran penyakit ini.

“Yang besar-besar itu kan memang kayak yang Makassar. Tapi dia besar maksudnya dia cari penduduk-penduduknya itu yang kumuh, padat, miskin. Daerah-daerah rentan itu cari juga, yang ada asramanya, lapasnya, yang banyak berkumpul-berkumpul, padat-padat, dan saling selalu interaksi,” jelasnya.

Lebih jauh, Ishaq menegaskan lingkungan tempat tinggal menjadi salah satu faktor penting dalam penularan TB. Kondisi rumah yang padat dan kurang sanitasi sangat berisiko mempercepat penyebaran penyakit ini.

Di banyak rumah, terutama di kawasan kumuh dan miskin, satu bangunan sering dihuni oleh beberapa keluarga sekaligus. Ruang yang sempit, ventilasi yang buruk, dan sanitasi yang kurang memadai, disebutnya membuat TB mudah menular dan menyebar dengan cepat.

“Di rumah-rumah yang kumuh, miskin, yang padat, kan daerah-daerah itu perlu dicari di situ. Kan yang dalam satu rumah biasa 4 keluarga. Itu sempit-sempit, sanitasinya tidak baik, ventilasinya tidak mendukung, pasti mudah menular, bisa mudah menyebar ya,” tambahnya.

Saat ini, Dinas Kesehatan Sulsel memanfaatkan teknologi canggih untuk mendukung program screening Tuberkulosis. Tes Cepat Molekuler (TCM) dan X-ray mobile digunakan untuk memeriksa pasien dengan gejala TB, terutama di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

“Kalau ada yang gejala-gejala ini, batuk tidak biasa, terus ada yang lain ya, itu diperiksa di puskesmas. Ada periksa TCM, tes cepat molekuler. Itu ada juga X-ray mobile. Ada juga yang kita kerja sama nanti dengan Kemenkes punya ya, Poltekkes,” ujar Ishaq.

Saat ini, program screening sudah berjalan di sejumlah daerah, seperti Makassar dan akan segera diperluas ke daerah lain dengan meminjam alat pemeriksaan mobile. Upaya ini diharapkan mampu menekan penyebaran TBC di Sulsel, khususnya di wilayah-wilayah dengan tingkat risiko tinggi, melalui deteksi dini dan pengobatan yang tepat.

“Jadi di Makassar yang jalan, nanti juga Toraja pinjam (alatnya) juga nanti. Jadi nanti akan mobile ke sana,” pungkas Ishaq.

error: Content is protected !!