KabarMakassar.com — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dinamika besar dalam sektor perparkiran sepanjang 2024.
Melalui publikasi Laporan Hasil Survei Triwulanan Kegiatan Usaha Terintegrasi 2024, BPS memperlihatkan bahwa industri parkir merupakan salah satu sektor usaha yang paling fluktuatif, baik dari sisi penjualan karcis maupun pendapatan.
Survei ini melibatkan 13.760 responden perusahaan besar dan menengah dari 38 provinsi menggunakan metode wawancara langsung. Indeks performa dihitung dengan membandingkan nilai periode berjalan terhadap periode sebelumnya. Angka di atas 100 menunjukkan kenaikan, sementara di bawah 100 menandakan penurunan.
Data BPS memperlihatkan bahwa penjualan karcis parkir bergerak naik-turun sepanjang 2024. Pada triwulan I, jumlah karcis terjual justru turun 2,81 persen dari triwulan IV 2023. Fenomena ini diikuti kenaikan tinggi pada triwulan II sebesar 11,99 persen, kemudian kembali merosot 7,9 persen di triwulan III, sebelum naik lagi 4,64 persen pada triwulan IV.
Tren ini hampir sejalan dengan indeks pendapatan. Pada triwulan I, pendapatan mengalami kenaikan 1,44 persen meski jumlah karcis turun—sebuah anomali yang menurut BPS bisa terjadi karena kenaikan tarif parkir, durasi parkir yang lebih lama, atau perubahan jenis kendaraan dari sepeda motor ke mobil yang berbiaya lebih tinggi.
Pada triwulan II, III, dan IV, pendapatan bergerak searah dengan karcis terjual: masing-masing mencatat indeks 110,48; 98,99; dan 107,9. Ini menunjukkan pola umum bahwa peningkatan volume transaksi hampir selalu diikuti lonjakan pendapatan.
BPS menilai kondisi tersebut menegaskan bahwa usaha perparkiran sangat dipengaruhi banyak variabel, sehingga perkembangan tiap periodenya tidak mudah diprediksi. Dinamika jumlah kendaraan, tarif parkir, pola mobilitas masyarakat, hingga kebijakan daerah menjadi faktor penentu naik-turunnya performa sektor ini.
Selain pendapatan, laporan BPS juga memotret indeks balas jasa pekerja meliputi gaji, lembur, dan tunjangan. Data menunjukkan pola serupa, meningkat pada triwulan I, II, dan IV, serta turun pada triwulan III dengan indeks 99,24. Ini memperlihatkan bahwa balas jasa di industri parkir bergerak sejalan dengan pendapatan perusahaan.
BPS menegaskan bahwa hubungan linier antara pendapatan dan balas jasa pekerja menandakan sektor ini cenderung memberikan imbalan sesuai kemampuan usaha. Dengan kata lain, ketika pendapatan meningkat, kesejahteraan pekerja ikut terangkat.
Laporan ini menempatkan sektor perparkiran sebagai industri jasa yang dinamis, penuh variabel, dan sangat sensitif terhadap perubahan perilaku masyarakat maupun kondisi ekonomi regional.














