KabarMakassar.com — Di tengah hiruk pikuk kemajuan zaman, potret memilukan kemiskinan ekstrem masih mengakar kuat di Dusun Sambone-bone, Desa Palajau, Kecamatan Arungkeke, Kabupaten Jeneponto, Sulsel.
Di sana nampan seorang nenek renta bernama Saniba (95), bersama putrinya Jumasia alias Cio (65) dan seorang cucunya, harus menjalani hari-hari di dalam gubuk tua yang ringkih, nyaris roboh dimakan usia.
Nenek Saniba, yang telah melewati hampir satu abad usianya, dipaksa berteduh di bawah atap yang lapuk dan dinding yang reyot. Kondisi rumah mereka jauh dari kata layak, menjadi ancaman nyata setiap kali hujan badai atau angin kencang menerpa.
Di usia renta yang seharusnya menikmati ketenangan, Nenek Saniba dan Ibu Jumasia justru harus bergulat dengan kekhawatiran akan keselamatan diri mereka sendiri. Keterbatasan ekonomi membuat mereka tak mampu melakukan perbaikan sedikit pun.
“Setiap kali hujan, kami hanya bisa pasrah. Kami khawatir atap ini tidak kuat menahan beban air, tapi kami tidak punya tempat lain,” demikian gambaran pilu yang terekam dari kondisi rumah mereka, yang membuat siapa pun yang melihatnya terenyuh.
Kisah keluarga ini menunjukkan bagaimana Nenek Saniba, yang renta, dan Ibu Jumasia, putrinya, terpaksa menerima ancaman bahaya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Keterbatasan ini membuat mereka sangat rentan, baik dari segi kesehatan maupun keselamatan fisik.
Keberadaan sang cucu di tengah kondisi memprihatinkan ini semakin memperkuat urgensi perlunya tindakan cepat dan nyata dari berbagai pihak.
Saat ini, kisah Nenek Saniba telah menjadi perhatian serius di Kabupaten Jeneponto, memicu harapan besar agar uluran tangan kepedulian dapat segera mengubah gubuk tua yang rapuh itu menjadi hunian yang layak dan aman.
Kondisi ini terekam dan disebarkan di media sosial, menjadi jeritan hati yang akhirnya didengar oleh aparat kepolisian Resort ( Polres) Jeneponto.
Hanya dalam hitungan jam setelah video itu sampai ke meja pimpinan, Kapolres Jeneponto, AKBP Widi Setiawan langsung memerintahkan tim untuk bergerak.
Kapolsek Arungkeke, Iptu Alimin, bersama personelnya segera melaksanakan Bakti Sosial (Baksos) dan meninjau langsung lokasi.
“Dengan dilaksanakannya giat Bakti Sosial ini, semoga dapat membantu meringankan kebutuhan sehari-hari kedua lansia. Kehadiran Polri di tengah masyarakat adalah sebagai pelayan dan pengayom yang presisi,” ujar Iptu Alimin, Sabtu (18/10).
Awalnya, bantuan yang disalurkan adalah bahan makanan. Namun, momen paling mengharukan terjadi ketika keluarga tersebut menerima kejutan terbesar: janji rehabilitasi.
Kapolres Jeneponto telah secara resmi merencanakan untuk melakukan renovasi total atau “bedah rumah” bagi hunian Jumasia dan Saniba. Rumah yang sebelumnya merupakan simbol perjuangan berat, kini akan diubah menjadi tempat tinggal yang aman dan nyaman.
Aksi cepat tanggap yang lahir dari komitmen kemanusiaan Polri ini membuktikan bahwa kehadiran aparat tidak hanya terbatas pada penegakan hukum, tetapi juga merangkul tugas sosial, mengubah kisah pilu menjadi babak baru penuh harapan bagi warga Jeneponto yang paling membutuhkan.














