KabarMakassar.com — Program Jelajah Sampah Makassar 2025 yang digagas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar mulai menunjukkan hasil konkret.
Sejak digelar serentak di 15 kecamatan pada 19 November 2025, program ini telah berhasil mengumpulkan ratusan kilogram sampah dari berbagai titik kota.
Kepala DLH Makassar, Dr. Helmy Budiman, menjelaskan bahwa program ini dirancang sebagai gerakan edukasi lingkungan yang melibatkan warga secara langsung dalam pemilahan dan pengolahan sampah.
“Jelajah Sampah ini bukan sekadar aksi bersih, tetapi gerakan edukatif untuk mengubah perilaku. Kami ingin masyarakat mengenal persoalan sampah di lingkungannya dan menjadi bagian dari solusi,” ujar Helmy, Selasa (09/12).
Ia menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari roadmap besar menuju Makassar Bebas Sampah 2029, selaras dengan visi Wali Kota Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham.
Menurut Helmy, kegiatan ini menggabungkan edukasi, hiburan, dan layanan publik agar lebih mudah diterima masyarakat.
“Kami kemas dengan pelatihan daur ulang, pameran kreasi ramah lingkungan, diskusi peduli lingkungan, hingga aksi bersih dan games. Bahkan ada pasar murah dan cek kesehatan supaya manfaatnya terasa langsung,” katanya.
Sejak dimulai, sejumlah kecamatan melaporkan capaian pengumpulan sampah yang signifikan.
Kecamatan Manggala mencatat jumlah terbesar, yakni 208,3 kilogram, disusul Kecamatan Wajo dengan 135,25 kilogram, dan Kecamatan Mariso sebanyak 64,4 kilogram sampah organik dan anorganik.
DLH Makassar menyebut angka ini sebagai bukti meningkatnya partisipasi masyarakat dalam gerakan lingkungan.
“Ini menunjukkan bahwa ketika masyarakat diberi ruang dan pendekatan yang tepat, partisipasi mereka sangat luar biasa. Perubahan perilaku adalah kunci dari semua target pengelolaan sampah kota,” jelas Helmy.
Jelajah Sampah 2025 juga mendapat dukungan puluhan komunitas, penggiat lingkungan, dan mitra kolaborasi yang ikut memperluas jangkauan kegiatan di tingkat kecamatan.
Helmy berharap kegiatan ini dapat menjadi pemicu gerakan masyarakat yang lebih masif hingga 2029 nanti.
“Aksi lingkungan tidak bisa hanya ditopang pemerintah. Keterlibatan masyarakat menentukan keberhasilan kita. Perubahan tidak akan terjadi tanpa partisipasi warga,” pungkasnya.














