KabarMakassar.com — Polemik seleksi calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Sulawesi Selatan (Sulsel) yang kini menjadi perhatian Komisi A Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulsel dinilai berpotensi menimbulkan dampak lebih luas daripada sekadar sengketa hasil seleksi.
Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Kota Makassar, Muh Fahmi, mengingatkan agar persoalan tersebut tidak sampai menggerus kepercayaan masyarakat terhadap sistem pembinaan Paskibraka yang selama ini telah dibangun.
Pernyataan itu disampaikan Fahmi saat menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi A DPRD Sulsel terkait laporan dugaan pelanggaran dalam penetapan tiga pasang calon Paskibraka Sulsel yang akan mengikuti tahap verifikasi tingkat pusat, di gedung sementara DPRD Sulsel, Jalan AP Pettarani, Selasa (02/06).
Fahmi mengaku khawatir polemik yang berkembang dapat menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat, khususnya bagi para pelajar dan orang tua yang selama ini mendukung proses pembinaan Paskibraka.
“Sistem pembinaan Paskibraka yang kami bangun di Kota Makassar selama ini berjalan baik. Kami khawatir riak-riak yang muncul akibat polemik ini justru merusak ekosistem Paskibraka yang sudah dibangun bertahun-tahun,” ujarnya.
Menurut Fahmi, menjadi anggota Paskibraka bukanlah proses instan. Banyak pelajar yang telah mempersiapkan diri sejak awal masa sekolah menengah atas melalui berbagai kegiatan pembinaan, pelatihan, hingga kompetisi yang berkaitan dengan kepemimpinan, kedisiplinan, dan wawasan kebangsaan.
Ia mencontohkan pengalaman sejumlah orang tua yang mendampingi anak-anak mereka sejak kelas satu SMA untuk mengikuti berbagai tahapan pembinaan dengan harapan dapat lolos menjadi anggota Paskibraka.
“Ada anak-anak yang sejak kelas satu SMA sudah mengikuti diklat, perlombaan, latihan gabungan, hingga mempersiapkan diri untuk seleksi Paskibraka. Mereka berjuang bertahun-tahun bersama keluarganya untuk mencapai titik itu,” kata Fahmi.
Selain menjadi wadah pembentukan karakter, Fahmi menyebut keberadaan Paskibraka juga membuka peluang pendidikan bagi para anggota yang berprestasi. Di Kota Makassar, kata dia, para alumni maupun anggota Paskibraka mendapatkan berbagai bentuk pendampingan dan akses pengembangan diri, termasuk dukungan pendidikan.
Karena itu, ia menilai polemik yang terjadi harus diselesaikan secara terbuka dan objektif agar tidak menimbulkan kekecewaan yang berkepanjangan di kalangan peserta maupun masyarakat.
“Kami takut kepercayaan masyarakat hilang. Padahal di balik proses ini ada anak-anak bangsa yang berjuang, ada orang tua yang berkorban dan berharap melihat anaknya mengibarkan Sang Merah Putih,” ujarnya.
Fahmi berharap RDP yang digelar DPRD Sulsel dapat menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap proses seleksi sehingga kejadian serupa tidak kembali terulang pada tahun-tahun mendatang.
Menurutnya, apapun hasil dari proses klarifikasi yang sedang berjalan, fokus utama harus diarahkan pada perbaikan sistem dan perlindungan terhadap peserta yang terdampak.
“Kami berharap apa yang terjadi saat ini menjadi pelajaran bersama. Jangan sampai peristiwa yang sama kembali terulang pada seleksi berikutnya,” katanya.
Ia juga meminta agar setiap tindakan atau prosedur yang terbukti merugikan peserta mendapat perhatian serius dari pihak terkait. Langkah evaluasi, menurutnya, perlu dibarengi dengan pembenahan mekanisme seleksi agar lebih transparan dan akuntabel.
Fahmi juga menyampaikan rekomendasi dari sejumlah pengurus Paskibraka sekolah dan alumni Paskibraka di Kota Makassar agar ke depan tersedia pendampingan yang lebih kuat bagi peserta selama proses seleksi berlangsung.
Menurutnya, polemik yang terjadi tidak hanya berdampak pada peserta dari Kota Makassar, tetapi juga menjadi perhatian bagi calon Paskibraka dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan.
“Kejadian ini bukan hanya menyangkut satu daerah. Ini menjadi contoh bahwa masih ada prosedur yang perlu diperbaiki bersama agar semua peserta merasa mendapatkan perlakuan yang adil,” ujarnya.
Fahmi menegaskan bahwa komunitas Paskibraka di Makassar tetap mendukung proses pengibaran bendera dan pembinaan generasi muda. Namun, ia berharap polemik yang muncul tidak sampai merusak semangat kebangsaan yang selama ini menjadi fondasi utama gerakan Paskibraka.
“Hari ini mungkin kita bisa berbeda pendapat, tetapi yang terpenting adalah bagaimana menjaga kepercayaan anak-anak dan masyarakat terhadap Paskibraka. Ekosistem yang sudah dibangun jangan sampai rusak hanya karena persoalan yang sebenarnya bisa diperbaiki bersama,” tukasnya.















