kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Politisi Perempuan Makassar: Umiyati dan Gairah Mengabdi Lewat Politik

Politisi Perempuan Makassar: Umiyati dan Gairah Mengabdi Lewat Politik
Anggota DPRD Kota Makassar Umiyati dari Fraksi PPP, (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Figur perempuan dalam dunia politik selalu menjadi perhatian terutama di kursi legislatif. Ada yang mendukung dan mengharapkan keterwakilan perempuan yang lebih besar, sementara yang lain masih memiliki pandangan tradisional yang membatasi peran perempuan dalam politik.

Bagi Umiyati, politik bukan sekadar jabatan. Ia menyebutnya sebagai ‘fashion’, bukan dalam arti pakaian, tapi sebagai panggilan jiwa, gairah batin, dan bentuk pengabdian yang dijalani sepenuh hati.

Dalam balutan jas hitam dan hijab hijau mint, Anggota Komisi B DPRD Kota Makassar itu hadir bukan hanya sebagai wakil rakyat, tapi sebagai perempuan yang tahu mengapa ia berada di kursi dewan.

Kepada KabarMakassar, Anggota DPRD Dapil 4 meliputi Kecamatan Panakkukang dan Manggala itu banyak bercerita.

Sejak 2009, ia telah menapaki jalan politik dengan semangat yang tak pernah padam, meski sempat tersisih dan berkali-kali harus memulai lagi dari titik nol.

“Kalau ditanya kapan pertama terjun ke dunia politik, itu tahun 2009. Waktu itu saya ikut pemilu lewat salah satu partai. Suara saya banyak, hampir 3.000, tapi partai itu cuma lolos di tingkat DPR RI. Jadi saya tidak dapat kursi di kota. Itu awalnya,” kisah Umiyati saat ditemui di ruang paripurna di DPRD Makassar beberapa waktu lalu.

Tahun-tahun awal itu menjadi ujian ketangguhan baginya. Tidak sedikit yang mundur setelah gagal, tapi Umiyati memilih bertahan.

Ia kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2024 dan akhirnya berhasil terpilih sebagai legislator Kota Makassar dari Dapil 4 yang meliputi Kecamatan Panakkukang dan Manggala.

“Saya merasa wilayah Panakkukang Manggala itu bagian dari saya. Banyak keluarga saya di situ, rumah juga di situ, lingkungan sosial saya banyak di situ. Jadi ketika saya maju dari dapil ini, saya tahu betul apa yang menjadi kebutuhan dan suara masyarakatnya,” katanya, sambil merapikan tempat duduk.

Setelah terpilih di DPRD Makassar, Umiyati mantap melanjutkan pengabdian. Ia tak sekadar mengejar target pembangunan, tapi ingin benar-benar menjadi penyambung lidah masyarakat, terutama perempuan dan anak-anak yang menurutnya kerap luput dari perhatian kebijakan.

“Kalau ditanya kenapa perempuan harus masuk politik? Ya karena banyak sekali hal yang hanya bisa dilihat dari kacamata perempuan. Saya tidak bilang laki-laki tidak bisa, tapi perhatian terhadap isu-isu seperti kesehatan ibu dan anak, pendidikan anak usia dini, kekerasan dalam rumah tangga, itu lebih mudah dirasakan oleh perempuan,” jelasnya.

Sebagai perempuan, istri, sekaligus ibu, Umiyati mengakui bahwa tugas di parlemen bukanlah tanpa tantangan. Ia harus membagi waktu antara keluarga, konstituen, tugas-tugas dewan, dan aktivitas sosial kemasyarakatan.

Namun menurutnya, semua itu bisa diatasi dengan disiplin, keikhlasan, dan pengalaman sejak dini dalam mengelola waktu.

“Dari kecil saya dibiasakan mandiri. Orang tua saya pengusaha, saya terbiasa bantu di rumah, urus pekerjaan, masak, dan semua hal. Jadi saya tahu bagaimana membagi waktu. Di rumah juga, kita didukung, ada yang membantu, tinggal bagaimana kita mendelegasikan pekerjaan dan mengawasi dengan baik,” ungkap Srikandi PPP itu.

Ia menyebut, pekerjaan sebagai anggota dewan justru banyak sisi positifnya. Selain bisa menyampaikan aspirasi warga secara langsung, ia juga punya ruang untuk ikut memengaruhi arah kebijakan pembangunan kota.

“Pekerjaan anggota dewan itu sebenarnya menyenangkan. Saya nggak percaya kalau ada yang bilang berat, karena kalau nggak enak, nggak mungkin orang mau jadi dewan. Tapi memang butuh komitmen. Kita harus tahu apa fungsinya, mulai dari pengawasan, budgeting, sampai legislasi. Dan itu tidak bisa setengah hati,” tegasnya.

Dalam masa jabatannya, Umiyati aktif memperjuangkan sejumlah program yang pro-rakyat di daerah pemilihannya. Mulai dari infrastruktur lingkungan, bantuan UMKM, pendidikan, hingga layanan kesehatan dasar.

Menurutnya, keberhasilan seorang legislator diukur bukan dari seberapa sering tampil di media, tetapi seberapa nyata dampaknya di lapangan.

“Saya lebih senang dilihat masyarakat lewat hasil kerja, bukan lewat baliho atau sosmed. Misalnya, saya pernah bantu urus drainase di satu lorong yang selalu banjir, lalu sekarang air sudah lancar. Atau bantu warga mengakses bantuan sosial, itu yang membuat saya merasa berguna,” ujarnya.

Perjalanan politik Umiyati juga menunjukkan konsistensi ideologis. Ia hanya berkiprah di di partai berbasis Islam yaitu PPP.

Baginya, pilihan politik bukan hanya soal kendaraan untuk menang, tapi juga tempat yang selaras dengan nilai-nilai pribadi.

“Di PPP, saya merasa cocok karena partai ini punya basis nilai keagamaan. Saya memang ingin berpolitik dengan berkah, artinya bukan sekadar cari jabatan, tapi juga jadi ladang amal. Bukan cuma saya yang naik, tapi masyarakat juga dapat manfaatnya,” ucapnya.

Meski aktif di parlemen, Umiyati tidak melupakan peran domestiknya sebagai ibu rumah tangga. Ia tetap memasak, tetap hadir dalam urusan keluarga, dan tetap menjaga kehangatan rumah.

Baginya, justru pengalaman sebagai ibu memberi perspektif yang kaya dalam menyusun kebijakan publik.

“Saya merasa justru karena saya ibu, saya bisa lebih memahami banyak persoalan. Misalnya, saya tahu bagaimana repotnya ibu-ibu kalau anaknya sakit tapi puskesmas jauh. Atau bagaimana susahnya ibu tunggal cari biaya sekolah anak. Itu yang saya perjuangkan di dewan,” tuturnya.

Ia juga mengajak lebih banyak perempuan untuk berani masuk ke dunia politik. Menurutnya, parlemen butuh keseimbangan perspektif agar kebijakan yang dihasilkan lebih inklusif dan adil.

“Perempuan jangan takut politik. Jangan pikir ini dunia keras. Kalau kita punya niat baik, kita bisa jalan terus. Justru perempuan harus masuk, supaya suara perempuan lebih terdengar,” pesannya.

Kini, Umiyati energik menyelesaikan berbagai agenda kerja. Ia terlibat aktif dalam pembahasan anggaran, pengawasan program kota, hingga menjalin komunikasi dengan OPD dan tokoh masyarakat.

Meski belum memastikan apakah akan kembali mencalonkan diri di periode 2029 selanjutnya, ia menegaskan bahwa dirinya akan terus berada di jalur pengabdian, apapun bentuknya.

“Apakah nanti maju lagi atau tidak, itu saya serahkan ke proses. Tapi saya tidak akan berhenti mengabdi. Kalau bukan di parlemen, mungkin lewat organisasi, yayasan, atau cara lain. Yang pasti, saya ingin tetap dekat dengan masyarakat,” pungkasnya.

Profil Singkat

Nama : HJ. Umiyati, S.Kom
Kewarganegaraan : Indonesia
Status : Menikah

Pendidikan

1994 – 1998 Fakultas Manajemen Komputer Universitas Dipa Makassar
1991 – 1994 SMA Neg. 2 di Makassar
1989 – 1991 SMP Neg. 1 di Makassar
1982 – 1989 SD Neg Mattoangin 1 di Makassar

Organisasi

1. HIPMI : Anggota
2. REI : Anggota
3. Himpunan Kampus : Ketua
4. Jam’iyah : Wakil Ketua
5. PIM : Anggota
6. Pekerja Sosial Masyarakat : Pembina
7. Wisata Hati : Pembina

Pengalaman Kerja

1999 – Sekarang Direktris PT. Primakarya Bentalapermai
2003 – Sekarang Direktris PT. Rasya Informatika Cita
2011 – Sekarang Pemilik The Family Spa Makassar
2022 – Sekarang Pemilik Rumah Makan Bakmi EQ Makassar

error: Content is protected !!