KabarMakassar.com — Siapa yang tidak kenal Ahmad Zubair ? Pria dengan nama lengkap Ahmad Zubair Bin Laka Dg. Sibali. Lahir di Ujung Pandang, sekarang Makassar, 30 Nopember 1966 dari pasangan H. Laka Dg. Sibali, dan ibunya bernama Hj. St Zohra Dg. Ti'no. Beliau tercatat sebagai aktivis di eranya, sempat mengenyam pendidikan di fakultas Sospol Universitas Hasanuddin tahun 1988 silam.
Masa kecilnya di habiskan di Makassar, begitu juga saat duduk di bangku SD, hingga kuliah di PTN ternama di Indonesia Timur, Unhas, dimana saat mahasiswa, ia gunakan sebagian waktu luangnya untuk memperjuangkan nasib wong cilik, seperti nasib sopir pete-pete yang membuat namanya kemudian dikenal luas.
"Beliau rekan saya di FIS, dan saya kenal baik orangnya, berkarakter dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi," kata Salahuddin Alam, rekan kuliahnya di Fakultas Sastra, kini fakultas Ilmu Budaya, ketika ditanya soal kenangan dari Zubair.
Menurutnya, jika rekannya itu, terlalu sibuk mengurus orang lain sampai-sampai lupa akan masa depannya yang gemilang, termasuk tuntutan menyelesaikan kuliah tepat waktu, kenang Sala', panggilan karib Salahuddin Alam.
Ia mengakui, jika dirinya pernah mengurus perpindahan ke kampus lain, karena berkaitan dengan aktivitasnya di luar kampus, dimana beliau senantiasa menjadi mahasiswa yang betul-betul sebagai "agent of social", terutama.bagi kalangan kaum papah.
Tiap ada persoalan sesama sopir, apakah masalah tarif atau rute, beliau selalu ada. Tak heran, jika namanya tidak asing di kalangan para sopir era 90-an. Ia juga kerap memimpin aksi di lapangan, termasuk mengkoordinir pemogokan sopir pete-pete, buruh pabrik, penggusuran, hingga suatu saat ia dipercaya menjabat Ketua Serikat Sopir Makassar (Sesmak).
Menjelang kejatuhan rezim orde baru, ia masih berkontribusi mengumpulkan para sopir pete-pete untuk memfasilitasi rekan-rekan mahasiswa dalam menuntut reformasi 98.
Sebagai mahasiswa Fisipol Unhas, ia pun pernah melakukan proses pendidikan politik dimana ia diusung oleh berbagai Ormas, termasuk Sesmak yang membesarkan namanya sebagai bakal calon gubernur Sulsel tahun 2003-2008, kala itu sistem pemilihan masih melalui sistem perwakilan, belum menganut sistem pemilihan langsung, seperti sekarang.
Tetap Vokal Menyuarakan Kebenaran
Di masa tuanya, ayah sulung dari putri Azzahra Damayanti ini, tetap memelihara idealismenya. Tak pelak, ketika dipercaya menjabat Wakil Sekretaris Komite Sekolah di SMUN 23 Makassar dari tahun 2022 lalu hingga nafas terakhir, tetap getol menyuarakan kebenaran, tak heran dalam setiap forum pertemuan, ia kerap menggebrak meja akibat kebijakan yang akan diputuskan tidak sesuai dengan hati nuraninya.
Terakhir, ia sempat menyinggung soal pengadaan bangku dan meja yang diduga dibeli oleh Kepsek dan oknum Komite yang berseberangan dengannya. Padahal, sekolah lain bersedia memberikan bangku dan meja secara cuma-cuma, namun tiba-tiba diduga Kepsek dan oknum komite, secara sepihak mengambil keputusan membeli bangku.
Nah, di sinilah letak duduk persoalannya, karena Kepsek diduga bersama oknum komite diduga bermufakat jahat dengan pembelian bangku meja sebanyak 100 pcs dengan anggaran Rp 50 juta.
Jika dugaan ini benar, berarti harga bangku Rp 500 ribu per pcs. Patut, diduga terdapat mark up anggaran bangku dimana harga pasaran bangku paling banter Rp 200 ribu per pcs. Selain soal dugaan mark up, almarhum juga menuturkan saat ditemui jurnalis di Primayana Hospital, bahwa anggaran pembelian bangku tidak transparan.
Dananya dari mana, apakah sudah dibayar atau diutang, namun yang pasti saat itu, tahun 2022 lalu, diduga terdapat pungutan dari wali murid yang terkumpul sekitar kurang lebih Rp 50 juta.
Belum selesai kasus itu, diduga lagi SMUN 23 Makassar pada bulan Mei 2023, mendapat bantuan bangku dan meja dari Dana Alokasi Khusus (DAK), namun ia tidak merinci berapa nilai besaran dana DAK berupa bangku dan meja.
"Kalau saya tidak salah ingat, ada sekitar 4 mobil pick up yang mengantar ke sekolah," kata almarhum Zubair saat dirawat di sebuah rumah sakit akibat komplikasi penyakit yang dideritanya 2 tahun belakangan.
Ia heran, mengapa anak-anak kelas X sekarang harus berebut bangku dan meja, saat hendak belajar, apalagi belajar di ruang terbuka.
"Kan, sudah banyak bangku dan meja, transparan aja, jangan kesannya ditutupi ini bantuan bangku dan meja," kesalnya. Ada tidak disinggung itu bantuan bangku dan meja bulan 5 lalu ?
Aneh, memang, belum lagi bantuan bangku dari Ketua Komisi E DPRD Sulsel, bapak Rahman Pina yang menyerahkan bangku sebanyak 40 pcs, Senin, 14/08/23 lalu di SMUN 23 Makassar, sekaligus beliau turun tangan karena prihatin melihat kondisi SMUN 23 Makassar.
Terlepas dari itu, Zubair tetap percaya bahwa masih banyak tangan-tangan yang kerap berbuat kebaikan, dan konsisten dalam menyuarakan kebenaran.
Suami dari Hikmawati B yang kini dikarunia 3 anak ini, tetap memilih jalan sunyi, getol menyuarakan kebenaran. Ia berpesan agar rekan-rekannya bisa melanjutkan perjuangan. Selamat jalan Ahmad Zubair, istirahatlah dengan tenang di bawah bintang gemintang, engkau telah menginspirasi banyak orang, tetap hidup dalam pemikiran, dan kebaikan.













