KabarMakassar.com — Peringatan Hari Buruh Internasional dibuat tanpa aksi demonstrasi di Kota Makassar.
Sebagai gantinya, sekitar 10 ribu massa dari berbagai elemen masyarakat memadati lokasi dalam format baru bertajuk May Day Fest yang mengedepankan pendekatan humanis dan kolaboratif, yang berlangsung di Lapangan Karebosi, Jumat (01/05).
Kegiatan yang diinisiasi pemerintah kota bersama Koalisi Gerakan Rakyat itu dibuka dengan jalan sehat sejak pagi hari, diikuti oleh Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham, serta jajaran SKPD dan ribuan peserta dari kalangan buruh hingga masyarakat umum.
Koordinator Koalisi Gerakan Rakyat, Akhmad Rianto, menegaskan bahwa konsep tahun ini sengaja diubah untuk menghindari pola aksi jalanan dan membuka ruang partisipasi lebih luas.
“Peringatan May Day kali ini kami buat berbeda. Tidak hanya aksi, tapi ada empat kegiatan utama yang kami siapkan,” ujarnya.
Selain jalan sehat, rangkaian acara dilanjutkan dengan rapat akbar buruh yang menghadirkan pemangku kebijakan untuk menyampaikan sikap terhadap isu ketenagakerjaan.
Kegiatan juga diramaikan bazar UMKM hingga panggung rakyat yang menampilkan seni dan budaya.
Meski tanpa demonstrasi, Akhmad memastikan substansi perjuangan buruh tetap menjadi fokus utama. Sejumlah isu strategis tetap diangkat dalam forum tersebut.
“Kami ingin para pimpinan daerah bisa menyampaikan langsung bagaimana sikap mereka terhadap nasib buruh hari ini,” katanya.
Ia menyebutkan, sekitar 10 ribu peserta yang hadir merupakan gabungan dari 43 organisasi, mulai dari serikat buruh, petani, mahasiswa, pedagang kaki lima, hingga masyarakat umum.
Beberapa konfederasi besar seperti Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Serikat Gabungan Buruh Nasional (SGBN), Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI), dan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) turut ambil bagian.
Dalam momentum tersebut, buruh tetap menyuarakan tuntutan klasik seperti penolakan upah murah, penghapusan sistem outsourcing, hingga dorongan pengesahan RUU Ketenagakerjaan. Isu lain seperti PHK, reforma agraria, dan penguatan industri nasional juga ikut disorot.
“Kami ingin agar isu-isu buruh ini benar-benar mendapat perhatian serius. Termasuk penegakan hukum ketenagakerjaan yang selama ini dinilai masih lemah,” tegasnya.
Di sisi lain, Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, menyebut peringatan May Day tahun ini sebagai momentum kebersamaan yang harus dirayakan dengan suasana positif tanpa menghilangkan substansi perjuangan.
“Kita ingin kegiatan ini berjalan aman, tertib, dan penuh suasana kegembiraan. Ini ruang bersama antara pemerintah, pekerja, dan pengusaha,” ujarnya.
Ia memastikan pemerintah kota telah berkoordinasi dengan Forkopimda untuk menjamin kelancaran acara, termasuk penyediaan sarana dan prasarana penunjang di lokasi kegiatan.
Konsep tanpa demonstrasi ini diharapkan menjadi model baru peringatan May Day di Makassar lebih inklusif, minim konflik, namun tetap menjadi ruang konsolidasi dan penyampaian aspirasi buruh secara terbuka.














