KabarMakassar.com — Pemerintah Kota Makassar resmi meluncurkan logo peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-418 tahun 2025 dengan tajuk ‘Simpul Terpadu.’ Desain karya Reyhan Regisha dari Capslock Studio itu dipilih langsung oleh Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, sebagai ikon utama HUT kota yang akan jatuh pada November mendatang.
Yang menarik, simbol utama dalam logo tersebut terinspirasi dari Wala Suji, ornamen bambu tradisional yang sarat makna filosofis bagi masyarakat Makassar dan Bugis.
Menurut Budayawan Makassar, Hasan Hasyim, Wala Suji berasal dari kata walayang artinya pemisah pagar/penjaga dan suji yang berarti putri. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat
Bukan sekadar dekorasi atau pagar pelengkap dalam upacara adat, melainkan lambang kekokohan, kehormatan, dan kesatuan hidup. Dalam tradisi Makassar, bentuk dasar Wala Suji berasal dari konsep ‘appa sulapa’, yakni empat unsur kehidupan, tanah, air, api, dan angin.
“Empat unsur ini adalah inti dari kehidupan. Tidak ada yang bisa hidup jika salah satunya tidak ada. Itulah yang menjadi simbol kekokohan dan keseimbangan,” ujar Hasan Hasyim melalui saluran telpon, Senin (20/10).
Ia menjelaskan, dalam tradisi masyarakat Makassar, istilah apasulapa juga sering digunakan untuk menggambarkan sosok laki-laki yang kuat dan berwibawa.
“Laki-laki yang tangguh dan kokoh disebut laki-laki apasulapa. Itu lambang seseorang yang bisa diandalkan,” tambahnya.
Sifat air adalah sifat yang dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Ketika air dituang ke dalam bejana segiempat, maka ia akan berbentuk segiempat, bila ke dalam bejana bundar, maka ia pun berbentuk bundar. Sifat ini dipandang tidak konsisten karena keputusannya tergantung dimana ia berada, sehingga tidak memenuhi syarat sebagai pembuat keputusan. Sifat air yang tidak tetap dan mengalir ke tempat yang paling rendah, tidak sesuai bila dimiliki seorang pemimpin, yang seharusnya memberi bentuk kepada bawahannya.
Sifat api yaitu sifat seseorang yang gampang dikuasai oleh amarah, jika sekali saja disinggung perasaannya, ia akan membalas dendam kapan pun bila ia punya kesempatan. Ia tidak mempertimbangkan apa yang terbaik bagi semua orang tetapi hanya bagi dirinya sendiri. Sifat ini akan menimbulkan perselisihan antara dirinya dan orang yang dipimpinnya. Ia tidak memperdulikan saran dan kemauan orang banyak, lebih banyak mementingkan diri sendiri, dan jika ada yang melebihinya makan akan ditentangnya.
Sifat angin, yaitu orang yang tergantung pada arah angin. Jika angin bertiup dari Barat, maka ia ikut ke Timur, jika bertiup dari Selatan, ia ke Utara. Ia tidak memiliki sikap tegas, keputusannya tergantung pada orang banyak, bukan pada apa yang terbaik menurut pertimbangan terbaiknya.
Sifat tanah, merupakan sifat yang terbaik, sebab ia tidak pernah goyah, ia dapat bertahan bila dibanjiri air, dihempas angin dan terbakar api. Bila dialiri air, ia menjadi lunak, dibakar dengan api ia mengeras bagai batu-bata dan bila diterpa angin ia tak bergeming. Inilah sifat terbaik yang seharusnya dimiliki seorang pemimpin.
Orang Bugis-Makassar memandang alam raya sebagai sulapa’ eppa wala suji (segi empat belah ketupat). Menurut budayawan Mattulada, konsep tersebut ditempatkan secara horizontal dengan dunia tengah. Dengan pandangan ini, masyarakat Bugis-Makassar memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan. Kesempurnaan yang dimaksud meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu utara, selatan, barat dan timur.
Secara makro, alam semesta adalah satu kesatuan yang tertuang dalam sebuah simbol aksara Bugis-Makassar, yaitu sa yang berarti seuwwa, artinya tunggal atau esa. Begitu pula secara mikro, manusia adalah sebuah kesatuan yang diwujudkan dalam sulapa’ eppa’. Berawal dari mulut manusia segala sesuatu berawal dari bunyi yang menjadi kata, dari kata menjadi perbuatan, dan perbuatan mewujudkan jati diri manusia.
Dari filosofi empat unsur kehidupan inilah kemudian lahir simbol Wala Suji atau disebut juga Lasuji dalam bahasa Makassar yang berbentuk pagar bersegi empat. Biasanya, hiasan ini dipasang saat upacara adat, seperti pernikahan atau khitanan, sebagai pembatas sekaligus perlambang penghormatan bagi keluarga penyelenggara.
“Lasuji itu dipasang seperti pagar bambu, dan kehadirannya menandakan adanya hajatan atau pesta besar. Ia simbol kekokohan dan kehormatan bagi tuan rumah,” jelas Hasan.
Dalam beberapa pemahaman, Wala Suji umumnya dilepas setelah 40 hari pascaacara. Namun kini, banyak warga memilih mempertahankannya lebih lama, bahkan berbulan-bulan, karena dianggap sebagai simbol kebanggaan keluarga.
“Semakin lama disimpan, semakin besar rasa bangga karena mengingatkan pada peristiwa bahagia keluarga itu. Tapi ada juga rumah yang tak bisa mempertahankan karena alasan arsitektur,” katanya.
Makna filosofis Wala Suji yang begitu dalam itulah yang kemudian menjadi inspirasi bagi Pemerintah Kota Makassar dalam perayaan HUT ke-418.
Hasan menilai langkah Pemkot Makassar memilih Wala Suji sebagai inspirasi logo merupakan bentuk ketanggapan pemerintah terhadap nilai budaya lokal sekaligus upaya memberdayakan masyarakat.
“Pemerintah sangat peka terhadap nilai-nilai lokal. Ketika memilih Wala Suji, mereka bukan hanya mengangkat simbol budaya, tapi juga membuka peluang kerja bagi warga yang membuat hiasan Lasuji untuk acara-acara besar,” ujarnya.
Ia berharap, dalam HUT Pemkot Makassar tak hanya visual tetapi membuat Lasuji sungguhan yang dalam pembuatan Lasuji memerlukan waktu dan keterampilan, sehingga banyak warga mendapat penghasilan dari pekerjaan itu.
“Dengan begitu, konsep budaya berpadu dengan kesejahteraan. Masyarakat ikut terlibat, ekonomi berputar, dan nilai leluhur kembali diangkat,” tambah Hasan.
Ia pun mengapresiasi langkah Pemkot Makassar yang tidak hanya menjadikan Wala Suji sebagai elemen visual dalam logo HUT, tetapi juga sebagai pesan filosofis tentang kekuatan, kesatuan, dan harmoni sosial yang menjadi jati diri warga Makassar.
“Logo ‘Simpul Terpadu’ itu sangat tepat. Ia menggambarkan bagaimana Makassar dibangun dari simpul-simpul kekuatan yang berpadu, antara pemerintah, masyarakat, dan budaya. Sama seperti makna Wala Suji yang merekatkan kehidupan dalam empat unsur utama,” tutupnya.













