kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Makassar Diganjar Penghargaan Nasional atas Pengembangan Wastra dan Kriya

Makassar Diganjar Penghargaan Nasional atas Pengembangan Wastra dan Kriya
Walikota Makassar Munafri Arifuddin dan Ketua PKK Kota Makassar Melinda Aksa saat Menerima Penghargaan (Dok: Ist).

KabarMakassar.com — Pemerintah Kota Makassar diganjar penghargaan nasional atas upayanya mengembangkan wastra dan kriya berbasis kekayaan budaya lokal.

Pengakuan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) itu menjadi pelecut bagi Makassar untuk memperkuat industri batik, memperbanyak perajin, serta memperluas akses pasar produk khas daerah.

Penghargaan kategori Wastra dan Kriya diterima Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin bersama Ketua Dekranasda Kota Makassar Melinda Aksa pada penutupan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Nasional ke-54 dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) di Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Minggu (12/07).

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian bersama Ketua Harian Dekranas Tri Suswati Tito Karnavian menyerahkan penghargaan tersebut kepada Munafri yang didampingi Melinda Aksa.

Munafri mengatakan penghargaan itu tidak boleh berhenti sebagai pengakuan seremonial. Menurut dia, Makassar masih memiliki pekerjaan besar untuk mengembangkan motif khas daerah agar mampu bersaing dengan produk wastra dari wilayah lain di Indonesia.

“Itu bagian dari bagaimana kita terus memaksimalkan penggunaan motif-motif lokal untuk memastikan bahwa produk lokal kita tidak kalah bersaing dengan motif dari daerah lain,” kata Munafri.

Wali kota yang akrab disapa Appi itu menilai potensi motif lokal Makassar cukup besar. Namun, pengembangan industri wastra masih dihadapkan pada keterbatasan jumlah pembatik dan perajin yang mampu memproduksi ragam motif khas secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu pekerjaan yang harus dibenahi pemerintah bersama Dekranasda. Penguatan sumber daya perajin dinilai penting agar inovasi motif tidak berhenti pada produk tertentu dan kapasitas produksi dapat terus meningkat.

“Ini yang harus kita maksimalkan, terutama para produk pembatik. Kita memang belum punya banyak pembatik, sehingga motif-motif lokal itu masih perlu terus dikembangkan dengan lebih baik lagi,” jelas Appi.

Penghargaan nasional tersebut sekaligus menjadi pengakuan terhadap pembinaan ekosistem usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis budaya yang dilakukan di Makassar. Pemerintah kota bersama Dekranasda selama ini mendorong pembinaan perajin, promosi produk hingga perluasan akses pemasaran.

Munafri secara khusus mendorong penggunaan wastra khas Makassar, termasuk Batik Lontara. Produk berbasis aksara dan identitas lokal tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih luas sebagai salah satu ciri khas Kota Makassar.

Meski demikian, Munafri mengakui produk wastra lokal belum sepenuhnya mudah diperoleh masyarakat. Keterbatasan titik penjualan dan pilihan produk menjadi tantangan lain yang harus diselesaikan jika pemerintah ingin memperluas penggunaan kain khas Makassar.

“Nah, ini yang akan kita pastikan ke depan, tempat pembeliannya harus mudah diakses dan produknya tersedia dengan berbagai pilihan kualitas maupun harga sehingga semua masyarakat bisa mendapatkannya,” ungkapnya.

Menurut Munafri, akses pasar harus dibangun bersamaan dengan peningkatan kapasitas produksi. Produk lokal tidak cukup hanya dipamerkan dalam kegiatan tertentu, tetapi harus tersedia dan dapat dijangkau masyarakat dengan pilihan harga serta kualitas yang beragam.

Ia menyebut produk yang dibawa Pemerintah Kota Makassar dalam rangkaian HUT ke-46 Dekranas merupakan karya perajin lokal. Pameran itu dimanfaatkan sebagai ruang memperkenalkan hasil pembinaan sekaligus menunjukkan potensi kerajinan yang berkembang di Makassar.

“Ini adalah hasil karya para pengrajin yang ada. Kita ingin memastikan bahwa di Kota Makassar ada pemberdayaan terhadap para pengrajin sekaligus upaya melestarikan budaya yang kita miliki,” tuturnya.

“Semua itu dikemas dalam satu stan atau booth yang ditampilkan Pemerintah Kota Makassar lewat kerajinan Dekranasda,” lanjut Munafri.

Bagi Pemkot Makassar, pengembangan wastra dan kriya tidak semata-mata ditempatkan sebagai agenda pelestarian warisan budaya. Sektor tersebut juga diarahkan menjadi kekuatan ekonomi kreatif yang dapat memberikan nilai tambah kepada perajin dan pelaku UMKM.

Wastra sebagai kain tradisional membawa motif, corak dan simbol yang melekat pada identitas suatu daerah. Sementara kriya bertumpu pada keterampilan serta kreativitas perajin dalam menghasilkan produk bernilai estetika dan ekonomi.

Karena itu, pembinaan produk berbasis budaya diarahkan agar mampu mengikuti perkembangan pasar tanpa kehilangan identitas lokal. Inovasi produk, kualitas, kapasitas produksi dan pemasaran menjadi bagian yang dinilai menentukan daya saing kerajinan Makassar.

Di sisi lain, Munafri menilai penyelenggaraan HUT Dekranas dan HKG PKK Nasional di Makassar turut memberikan dampak ekonomi bagi kota. Ribuan peserta dan tamu dari berbagai daerah disebut ikut menggerakkan sektor perhotelan, kuliner, transportasi hingga usaha oleh-oleh.

“Dengan hadirnya kegiatan ini, ekonomi di Kota Makassar bisa memberikan kontribusi terhadap pembangunan daerah. Dampaknya sangat terasa. Hotel, restoran, rumah makan, pusat oleh-oleh, rental mobil dan berbagai sektor lainnya ikut bergerak karena hadirnya ribuan tamu di Kota Makassar,” katanya.

Munafri berharap pelayanan kepada tamu yang datang selama pelaksanaan kegiatan nasional dapat meninggalkan kesan positif terhadap Makassar.

“Kita berharap terus bisa memberikan hospitality yang baik kepada para tamu yang datang ke Kota Makassar,” ujar Appi.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga menyoroti dampak ekonomi dari penyelenggaraan HUT Dekranas ke-46 di Makassar. Menurut dia, pergerakan peserta dari berbagai wilayah Indonesia secara langsung mendorong aktivitas transportasi udara.

“Sektor transportasi udara pasti bergerak. Bayangkan seluruh Indonesia datang ke sini. Maskapai-maskapai harusnya berterima kasih dengan adanya acara ini,” kata Tito.

Permintaan transportasi lokal juga meningkat selama rangkaian kegiatan berlangsung. Tito menyebut kendaraan sewaan sulit diperoleh karena tingginya kebutuhan peserta dan tamu yang datang ke Makassar.

“Transportasi lokal juga bergerak, untuk mencari kendaraan sewaan saja berjuang karena sulit, semuanya diperebutkan,” ujarnya.

Dampak serupa terlihat pada sektor perhotelan. Tito mengaku sempat menanyakan tingkat hunian kepada pengelola hotel tempatnya menginap dan memperoleh informasi bahwa kamar telah terisi penuh.

“Saya menginap di Hotel Claro. Saya tanya manajernya, penuh. Saya yakin hotel-hotel yang lain juga begitu,” ungkap Tito.

Namun, Tito menegaskan nilai utama dari kegiatan Dekranas tidak hanya terletak pada perputaran ekonomi selama event berlangsung. Menurut dia, industri kerajinan Indonesia menyimpan potensi pasar global yang besar dan harus dikembangkan secara serius.

“Lebih dari itu, acara ini menghidupkan kembali potensi kerajinan Indonesia yang harus kita jaga dan kita kembangkan agar mampu menembus pasar dunia,” katanya.

Tito menyebut potensi pasar industri kerajinan dunia mencapai sekitar Rp500 triliun setiap tahun. Indonesia, kata dia, memiliki modal berupa keberagaman budaya, suku dan sumber daya alam yang melahirkan produk kerajinan berbeda di setiap daerah.

“Indonesia adalah negara dengan kerajinan tangan paling beragam di dunia. Setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing karena kita memiliki begitu banyak suku, budaya, dan sumber daya alam yang berbeda-beda,” ujarnya.

Ia mendorong pemerintah daerah dan Dekranas terus meningkatkan kualitas serta inovasi produk, termasuk mengoptimalkan bahan baku lokal menjadi kerajinan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Pengembangan sektor itu diharapkan tidak hanya meningkatkan kesejahteraan perajin, tetapi juga membawa produk kerajinan daerah bersaing di tingkat internasional.

“Kita berharap juga memperkuat posisi Indonesia di pasar ekonomi kreatif dunia,” tutup Tito.

error: Content is protected !!